Selasa, Agustus 16, 2011

Hari merdeka dan tugasku sebagai ibu!

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Satu kalimat dari pembukaan UUD 1945 yang sering terdengar setiap hari Senin di sekolah-sekolah, bukan saja di seluruh penjuru negeri ini, tetapi mungkin juga sekolah-sekolah di kedutaan besar kita di seluruh dunia. Begitu sering dan nyaring dibacakan, namun tahukah kita arti kemerdekaan sesungguhnya? Bagaimanakah kemerdekaan yang bebas dari penjajahan itu? Apakah penjajahan itu? Tidak ada lagi gubernur jenderal Belanda ataupun pemimpin Jepang di tanah air. Artinya sudahkah kita betul-betul lepas dari penjajahan?

Salah satu dari ketidak-merdekaan kita adalah anak belum dapat bebas bercita-cita sesuai dengan passion mereka karena saat belajar sebagian besar mempertimbangkan apakah selesai sekolah mereka dapat menghasilkan uang banyak? Uang menjadi majikan kita dan semua dilihat dari jumlah Rupiah yang sanggup dikumpulkan. Semakin banyak uang maka semakin hebat kedudukan seseorang. Ironisnya manusia seperti meminum air laut; semakin banyak semakin haus. Kita terjebak pada yang mahal itu bagus yang murah itu sampah. Akhirnya kalau tidak punya uang jadi minder, sebaliknya punya uang jadi pongah karena nilai-nilai "When you have money let's talk business, when you don't just be quiet." Kalau uang sulit didapat, maka korupsi bisa jadi salah satu jalan keluar karena orang akan hormat pada yang beruang tanpa mempedulikan dari mana asal uang tersebut. National character building yang pertama digagas bung Karno semakin ditinggalkan. Saat dicanangkan kembali, kita jadi gamang kemana harus menentukan kiblat karena uang dan kebendaan sudah lama menjadi panutan. 

Apakah mau jadi ahli serangga tropis karena kita hidup di negara dimana matahari terbit dan tenggelam di waktu yang kurang lebih hampir sama? Jadi ahli biologi laut karena garis pantai kita salah satu yang terluas di dunia? Jadi ahli arkeologi karena sejarah kita juga tua? Jadi ahli tata kota yang tetap mempertahankan ciri khas kota asli Indonesia sesuai dengan budaya lokal dan menempatkan pasar sebagai tulang rusuk ekonomi kota? Sekali lagi, anak terbelenggu oleh paradigma memilih bidang studi yang pada saat lulus akan mudah mencari kerja; bukan karena ingin belajar apa yang ingin mereka pelajari karena menjadi minat anak. Belum lagi kini alih-alih bisa bercita-cita, untuk bersekolah saja amboi mahalnya.

Dahulu hanya sebagian kecil kita yang dapat bersekolah; kaum bangsawan dan ambtenaar -pegawai negeri- saja. Ironisnya sekarangpun keadaan kurang lebih sama. Terjadi proses pemisahan kelas di sekolah dan jenis sekolah yang kentara dan cukup masif di kota-kota besar bagi yang mampu dan tidak mampu, dimana mampu di sini berarti mampu secara finansial dan yang konon mampu secara akademik. Pemisahan  ini perlahan tapi pasti dapat menjelma menjadi devide et impera baru yang akan memecah belah bukan hanya anak bangsa secara jangka panjang, tapi juga orang tua mereka dan masyarakat secara umum. Favoritisme tidak dapat dihindarkan. Orang tua akan bangga anaknya masuk yang disebut, anak juga akan terdongkrak kepercayaan dirinya jika berada di kelas elit tersebut. Sementara anak yang berada di kelas rata-rata bagaimana? Kompetisi memang untuk tidak dihindari, tapi kesengajaan sedemikian rupa artinya merekayasa agar hanya anak-anak yang berada dalam pasukan elit-lah yang jadi favorit. Memang menurut Pater J. Drost -salah satunya pernah jadi kepala sekolah SMA Kanisius Jakarta- hanya 30% anak bisa masuk perguruan tinggi, namun tidak pada tempatnya lebih berpihak pada pasukan elit dan memandang sebelah mata pada 70% anak lainnya. 

"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada:

  • KeTuhanan Yang Maha Esa,


  • kemanusiaan yang adil dan beradab,


  • persatuan Indonesia, dan


  • kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,


  • serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."



  • Pada alinea di atas, bagaimana kita bisa mencerdaskan kehidupan bangsa bila kesejahteraan umum kita tidak maju! Ini adalah pekerjaan rumah kita, seluruh masyarat dan bukan cuma pada penyelenggara negara berseragam dengan lencana Korpri dan bapak-ibu bersafari yang program renumerasinya dilakukan hampir tiap tahun.

    Sebagai ibu  dan manusia warga negara Indonesia, aku sudah sampai pada titik lelah untuk terus meminta pada negara agar menyediakan yang sebetulnya adalah hak warga. Transportasi umum terjangkau, sekolah merata, jalan-jalan mulus, air bersih untuk semua, listrik dari hulu ke hilir, kesehatan terjamin? Bagaimana aku bisa berharap pada aparatur pemerintah yang sering dijumpai di pusat perbelanjaan tanpa malu di jam dimana seharusnya mereka bekerja? Sudahlah. Enough is enough. Untuk itu aku mau menjalankan 3M seperti kata aa' Gym: 1. Mulai dari diri sendiri; 2. Mulai dari yang kecil; 3. Mulai saat ini. Sebagai ibu aku ingin fokus pada tugas utama mendidik anak yang merupakan generasi penerus tongkat estafet kelangsungan ibu pertiwi yaitu pada hal-hal di bawah ini:
    • Taat pada agama dan hanya menggantungkan serta berharap pada Yang Maha Kuasa.
    • Taat pada hukum dan hormat pada hak-hak orang lain tanpa mempedulikan suku, agama, ras, usia, strata sosial dan jenjang pendidikan.
    • Memberi mereka harga diri dan kesadaran bahwa kedudukan mereka setara dengan penduduk dunia lainnya sehingga dapat ikut serta melaksanakan ketertiban dunia seperti yang ada pada pembukaan UUD 1945.
    • Memompa agar menjadi individu yang penuh percaya diri untuk memilih sesuai dengan passion mereka dan siap menjalani apa yang menjadi keahlian mereka agar dapat berguna bagi banyak orang namun tetap menjadi orang yang rendah hati karena di atas langit ada langit.
    • Mendidik agar terampil dalam berbagai macam keahlian -olah raga, musik, life skills dan keahlian yang akhirnya menjadi tempat mencari nafkah mereka agar menjadi profesional.
    • Tetap menghormati warisan leluhur sebagai akar budaya, bukan hanya miliknya, tapi juga milik orang lain.
    • Menjadikan mereka manusia-manusia pembelajar seumur hidup yang menghargai ilmu apapun.
    Behaviour breeds behaviour. Sikap positifku insya Allah akan berbuah. Dirgahayu negeriku yang indah permai kaya raya dan masyarakatnya yang sebetulnya penuh dengan kebajikan dan ramah tamah gotong royong yang sesungguhnya. Semoga panjang usiamu dan tak lama lagi kami putra putrimu dengan lantang dapat membaca dengan khidmat dan penuh penghayatan alinea pembukaan UUD 1945 yang lain yang berbunyi: 


    "Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur."

    Semoga. Aamiin ya robbal alamin.

    2 komentar:

    rha-k mengatakan...

    Haru biru usai membaca tulisan bu Moi yg satu ini..
    Memang hanya PANCASILA yg cocok untuk mempersatukan keanekaragaman penduduk nusantara, bahkan dunia..
    Kebetulan sy ada akses kpd komunitas yg setia memegang teguh PANCASILA beserta implementasinya..
    Keep In Touch ya bu..
    Dirgahayu.. :)

    Moi Kusman mengatakan...

    Terima kasih sudah mampir DAN komen. I do love comments, good ones & not so good ones. Insya Allah I will keep in touch. Hidup Pancasila!