Jangan memberi selamat hari raya agama lain? Let's agree to disagree.

Baru saja saya memposting status:

"SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN & KUNINGAN SAKA 1933 untuk saudara2ku umat Hindu Bali. Semoga Ida Sanghyang Widi Wasa memberi keselamatan dan selalu dalam lindungan-NYA. Amin."


sudah ada seseorang yang mengingatkan saya bahwa sebagai orang Islam, saya tidak mengucapkan selamat hari raya agama lain karena berarti mengakui agama tersebut!

Hm, betul-betul komentar yang saya tunggu tapi juga sedih karena saat menerimanya. Sighs! Padahal status itu saya copy dari paste dari kakak ipar saya tercinta Kompyang Sudjathi; seorang mualaf sholehah asal... mana lagi? Pasti ketebak dari mana kak Kompyang berasal. 

Mungkin perlu juga saya jelaskan bahwa ayah saya -nama asli beliau Willem Cornelis Koesman dipanggil pak Wim Koesman- juga seorang mualaf. *iyalah, dari namanya aja sudah ketauan, kale*. Jadi saya punya banyak paman, bibi, sepupu, you name it-lah yang tidak seagama dengan saya dan kami get along FINE! Lebaran adalah saat bapak dan kami dikunjungi; hari raya agama mereka adalah saat kami mengunjungi mereka. Kami sudah melakukan hal itu seumur hidup saya dan itu INDAH luar biasa.

Comments

kereen tulisanmu Mb Moi-ku sayang
Moi Kusman said…
Terima kasi banyak Ratna. Dukunganmu bikin aku tambah semangat.
rha-k said…
Wah-wah-wah..

Pada suatu dialog spiritual beberapa belas tahun yang lampau, sy mendapatkan pengertian bahwa "kedalaman" beragama seseorang ibarat himpunan berbentuk lingkaran.

Ketika lingkaran terbesar adalah suatu agama tertentu dan daerah luar lingkaran ini berarti di luar agama tersebut.

[...bersambung..]

Popular Posts