Ibu benteng anak hadapi peer pressure!

Coba bayangkan pemandangan umum di banyak kota besar. Gadis-gadis SMA dan beberapa kuliah seolah janjian berambut panjang terurai di dada dengan model rambut seperti dicontohkan oleh bintang-bintang sinetron kita. Berseragam sekolah mereka menyandang tas bermerek yang berukuran besar -original atau KW super siapa yang tahu- dengan model yang lebih cocok untuk ibu mereka. Sementara anak lelaki bercelana jins ketat dari ujung paha ke betis dan berbaju flanel kotak-kotak membungkus t-shirt mereka. 

Dulu curve, gemini, bold, onyx terus torch dan entah apa lagi. Anak perempuan dan laki-laki tersebut tak mau melepas satu merek telepon selular tersebut dari genggaman mereka. Telepon genggam ternama asal Kanada yang "mendongkrak" Indonesia sebagai negara dengan tingkat penjualan telepon selular merek tersebut dengan angka yang cukup tinggi di dunia! Pertanyaan umum yang biasa diajukan satu sama lain adalah menjadi "PIN lo berapa?" Rasanya berat bahkan malu kalau tidak punya PIN itu karena tidak punya telepon itu. Artinya bukan anggota dari kebanyakan orang. Oh!

Fenomena keseragaman yang terjadi bisa saja cuma karena yang disebut "lagi model" belaka. Setiap generasi -bahkan setiap dekade dan tahun tertentu- tentunya mempunyai trend masing-masing yang merupakan ciri khas angkatan tersebut dan secara milestone memang cukup penting. Tapi dapatkah hal ini menjadi salah satu kecemasan bila dikaitkan dengan konsumerisme mengingat kondisi keuangan orang satu berbeda dengan orang yang lain? Remaja tanpa punya telepon merek tertentu yang menyediakan layanan bertukar pesan dan gambar secara murah adalah bukan remaja gaul?

Peer pressure -baik blak-blakan maupun secara tersirat- sangat mungkin terjadi di dalam hubungan pertemanan mereka. Bagi yang tidak kuat iman namun mampu, solusinya mudah. Tinggal minta orang tua dan -kun fayakun- bak menggoyang pohon uang dan uang akan jatuh seperti helaian daun tua karena efek gravitasi. Mau lagi? Tinggal goyang lagi. Pasti jatuh. Bagi yang tidak kuat dan tidak mampu? Mereka tak kuasa menahan godaan dan ingin ikut tapi fulus tak mulus. Jadi harus bagaimana?

Bentuk peer pressure lain adalah obsesi bentuk badan. Yang ini sejarahnya panjang, apa lagi sejak seorang perempuan Inggris bernama Twiggy tenar menjadi model. Twiggy? Itu model pertama dengan badan kutilang dara -kurus tinggi langsing dada rata. Langsing adalah dambaan baik pria maupun wanita. Untuk pria, maka six pack dambaannya. Keinginan langsing ini digenjot oleh media yang berpengaruh dalam hidup seorang manusia; saat iklan pertama kali ditayangkan di media cetak di sekitar awal abad 20, disusul oleh televisi dan sekarang dengan gegap gempitanya iklan di setiap lini, dari billboard raksasa sampai media sekecil bungkus permen merangsek ke ruang-ruang pribadi seperti kamar tidur dan kamar mandi; maka keinginan membabi buta menjadi seragam sungguh meracuni hidup seseorang; apa lagi seorang yang masih "labil" seperti remaja. 

Pernah membaca kisah pelacuran yang dilakukan pelajar perempuan SMA? Tidak mungkin hal ini juga melanda pelajar SMP atau mahasiswi. Semata-mata mereka lakukan iseng-iseng karena terjadi bukan demi sesuap nasi dan kejamnya ketidak-adilan, tapi demi so-called kemewahan yang mereka lihat disekitarnya. Mereka tergiur dan juga ingin merasakan apa yang dirasakan teman-teman mereka. Inilah harga mega mahal yang harus dibayar akibat ketidak-sanggupan anak menahan deburan ombak pasang -bahkan tsunami- peer pressure yang salah.

Tas Birkin Hermes yang happening itu!
Namun peer pressure bukan hanya eksklusif memilih korban yang masih remaja tapi juga para wanita dewasa. Lihat Malinda Dee dengan operasi-operasinya. Di kalangan sosialita tas seri Birkin dari Hermes- yang harganya bisa menyekolahkan anak di universitas negeri sampai tamat- adalah tas sejuta umat. Siapa bilang hanya remaja yang "galau"? Persoalan ibu jauh lebih kompleks lagi walaupun secara umur dan kedewasaan seharusnya mereka seperti beras penemuan baru yang tahan hama apapun. Apa yang dihasilkan dari dari ibu-ibu yang labil seperti ini? Mungkin saja ibu-ibu tersebut akan tetap menghasilkan anak-anak yang kuat; tapi kita tidak tahu apakah kuat di luar tapi ternyata rapuh di dalam. 


Dari mana anak dapat keteguhan hati untuk berkata tidak pada peer pressure? Sadarkah mereka bahwa ini adalah peer pressure? Tahukah mereka bahwa mereka punya pilihan ganda untuk peer pressure: bilang ya atau tidak? Dari mana rasa percaya diri itu? Dari mana munculnya kepribadian kuat? Bagaimana seseorang dapat mengenal siapa diri mereka sesungguhnya? Dari mana seorang anak tahu apa yang dia mau sehingga tahu mana prioritas dan mana yang kurang penting? Jawabannya dengan tegas adalah dari mana anak itu berasal; dari keluarga, terutama ibu. Tugas ini sangat vital dalam perkembangan kepribadian seorang anak karena ibu selalu memikirkan anak sejak anak tersebut dalam kandungan, buaian sampai saat anak harus meninggalkan sarang milik ibu ke sarangnya sendiri, dan terus sampai sang anak mempunyai anak, dan masih lanjut lagi. Buat ibu anak ada di hatinya selama hayat di kandung badan. So, in mothers we trust.

Sumber gambar:
  • Peer pressure: dougrun365.blogspot.com
  • Twiggy: http://aivee.24.eu/key/twiggy
  • Birkin bag: http://www.hihermes.com/hermes-birkin-handbags-togo-palladium-hardware-orange-p-19.html

Comments

Lala Rembrandt said…
Semoga aku diberikan kemudahan menghantarkan anak2 melewati masa remaja mereka sebagaimana mbak Moi sukses dengan anak2. Buka jam konsultasi yaaaah ^_^
Setuju sama mbak Lala, aku stay tune di gelombang ini :)
Hezka said…
Wuihhh.....fenomena anak-anak sekarang, entah apakah ini jg akan terjadi pada saat anak2ku dewasa?? Ya ALLAH kuatkanlah aku utk bisa membimbing anak-anakku di jalan yg lurus, yang Engkau ridhoi, amiiin. Ayo Bunda, jangan mau menyerah dgn kondisi kayak gini ^^ Thanks Mbak Moi
Moi Kusman said…
@Lala: Aamiin ya robbal alamin. Kalau liat cara Lala & mas Aar mendidik Yudhis, Tata & Duta; ike jamin deh anak2 akan jadi anak2 yg berkepribadian kuat & dare to be different. Aamiin.

@Ratna: Monggo dengan senang hati.

@Hezka: Aamiin ya robbal alamin.

@ All: Terima kasih sudah mampir. Aku juga masih belajar. Banyak dari keseharian anak2 yang masih harus aku perbaiki walaupun 2 anak sudah punya KTP. Mums will be mums. Ngingetin bahkan ngomel itu kog susah ilang ya? Semoga kita selalu ingat mengingatkan dalam kebaikan. Aamiin.
Lala Rembrandt said…
Aamiin. Terima kasih doanya mbak Moi. Mbak Ratna & mbak Hezka... ayo kita sama2 semangat menempuh jalan yang "tidak biasa" ini. Kalau rame2 jadi terasa biasa dan nggak aneh lagi.. hehehe :D
Widya said…
kuncinya mau banyak bicara menguatkan kepribadian anak2....sekalian menguatkan kepribadian diri sendiri, begitu tidak mb Moi?
Moi Kusman said…
Yuk, Ratna, Lala, Hezka. Gak ada lo gak rame. ;-)

Betul banget, Widya. Tiap aku ngomong ke anak2 aku inget bahwa aku harus practice what I preach. Apa lagi dalam Qur'an ada ayat yang berkata, "Allah tidak suka pada mereka yang berkata sesuatu tapi dia sendiri tidak menjalankannya." Ini adalah bentuk "self koreksi" saya. Terima kasih sudah mampir & sudah beri komentar.
Nan Supranata said…
setuju Bu. SUka dengan tulisan ini

Popular Posts