Apakah menulis itu terapi?

Kalau pak Habibie memakai menulis sebagai terapi dalam mengobati duka beliau saat kehilangan ibu Ainun, mungkin memang menulis adalah terapi buat sebagian orang -mungkin sebagian besar, tapi mungkin pula sebagian kecil; tapi mungkin bukan untuk setiap orang. Jumlah itu tidak terlalu penting. Menulis adalah sarana untuk curhat karena banyak orang ingin didengar -bahkan membayar mahal terapis untuk mendengar keluhan kita, menurutku menulis adalah sarana yang ampuh untuk mengeluarkan segala isi hati tanpa harus meminta orang lain untuk mendengar. Pendengarnya adalah pembaca. Mereka bisa menolak untuk membaca tanpa membuat sakit hati si penulis. Bayangkan bila kita ingin didengar sementara tidak ada yang mau mendengar -lebih parah lagi bahkan orang yang kita percaya, atau kita cintai, atau sahabat kita adalah orang-orang yang kita harapkan untuk mendengar tapi mereka tidak mau mendengar, hanya setengah mendengar, atau mendengar tapi dengan persepsi yang berbeda karena punya pandangan yang berbeda. Well, mereka tidak salah. Mereka hanya saja berada di frekuensi yang berbeda dengan frekuensi kita. Kalau sudah begitu, maka menulis adalah sarana yang efektif. Kita bisa menyadur apa yang telah kita tulis. Kalau tujuan akhir dari tulisan ini adalah untuk dipublikasikan, maka bisa kita sadur sesuai dengan citra yang ingin kita proyeksikan pada orang lain, sebab kalau terlampau jujur maka tidak banyak yang membaca. Tapi bisa jadi malah jujur apa adanya, tipe yang whether you like it or not, atau ini gue, justru diadopsi sebagai gaya curhat bagi sebagian orang. Abdullah Gymnastiar atau aa' Gym berkata bahwa hati hanya bisa dibeli dengan hati lagi. Jadi kalau apa yang kita tulis sesuai dengan apa yang ada di hati dan pikiran, dan si penulis dapat mengungkapkannya dengan baik dan menggunakan kata dan kalimat yang tepat sasaran, maka si pembaca akan kurang lebih dapat memahami apa yang dimaksud; apa yang menjadi ganjalan di hati penulis.  Mungkin menulis itu lebih baik dari berbicara karena kita semua tahu ungkapan "mulutmu, harimaumu"; "me and my big mouth, kata ungkapan dalam bahasa Inggris untuk menyatakan betapa bahayanya kata-kata kalau tidak dipikirkan dengan baik. Namun di sisi lain ada juga ungkapan bahwa "mata pena lebih tajam dari mata pedang" untuk mengatakan bahwa pena -dan sekarang apapun bentuknya dan lebih banyak keyboard dari komputer atau telepon selular; lebih membunuh dari pada pedang.  Menulis adalah skill -seperti menyanyi, menari, olah tubuh lain, memasak, memberi apresiasi pada seni- yang harus dilatih agar terus berevolusi menjadi lebih baik. Yuk mari kita bicara -mari kita tulis apa yang ingin kita bicarakan dalam tulisan. 


Sumber gambar: 
  • Habibie & Ainun: http://adittyaregas.blogspot.com/2012/11/film-habibie-dan-ainun.html

Comments

Anonymous said…
Semoga kita bisa meniru kehangatan Habibie Ainun...
vivi fajar said…
hmm..buat saya "ya", menulis memang terapi, mengurai isi pikiran yang bertumpuk dari hari ke hari..trima kasih sharingnya Mbak Moi..^^
Boni said…
bagus & menarik sekali artikelnya...menulis adalah penyaluran emosi terpendam, yang kalau tidak disalurkan bisa merusak dan menimbulkan penyakit...
penulispiritual.blogspot.com

Popular Posts