Bangga dan Kebanggaan; Mahluk Apakah Itu?

Wisuda UI 2014
Dalam rangka wisuda si tengah yang dilaksanakan di satu hari Jumat, lalu si sulung keesokan harinya di hari Sabtu, kami mendapat banyak ucapan selamat dari teman, kerabat, handai taulan, baik melalui media sosial, di grup percakapan, juga secara pribadi ditujukan langsung lewat berbagai aplikasi message di telepon genggam. Dari banyak ucapan selamat, ada satu ucapan yang membuatku banyak bertanya panjang dalam hati. Ucapan itu adalah: "Semoga anak-anak selalu menjadi anak-anak yang membanggakan."

Terus terang sudah lama aku agak mengabaikan kata "bangga" dan membatasi pemakaiannya. Dalam hal ucapan selamat tadi, kata "membanggakan" itu membuatku merenung. Apa sih sebenarnya kriteria anak yang membanggakan orang tua itu? Apakah karena anak membuat orang tua bahagia? Dipuja-puji? Naik derajat? Lebih terkenal? Menepuk dada? Apa dong? Kalau anak dapat medali, juara olimpiade sains, hafal kitab suci, jalan-jalan ke luar negeri, bisa membaca di usia 4 tahun, pintar memainkan alat musik, pandai olah raga, masuk universitas negeri atau terkenal, lulus kuliah tepat waktu; apakah itu termasuk beberapa tanda anak-anak yang membanggakan orang tua? Kalau anak tidak bisa atau tidak jadi itu semua, atau kebalikan dari tanda-tanda tadi, apakah artinya anak tidak membanggakan orang tua?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bangga itu besar hati dan merasa gagah, atau definisi di sekitar itu seperti tertulis di sini. Sementara dalam bahasa Inggris, bangga atau proud bahasa Inggrisnya, itu lebih luas lagi, yang menurutku jauh lebih baik dari sekedar merasa gagah misalnya. Di sini tertulis bahwa ada bangga ada  hubungannya dengan rasa puas terhadap beberapa hal, juga self-respect atau penghargaan terhadap diri sendiri, juga semangat.

Suasana wisuda dari monitor televisi
yang tersedia banyak di luar gedung.
Dua hari berturut-turut hadir di wisuda anak-anak, saat upacara sudah selesai, para keluarga wisudawan bisa ke tempat duduk para wisudawan di dekat panggung untuk berfoto. Suasana riuh penuh pelukan, ciuman di pipi, tawa ceria, dengan pose di sana sini, ditambah yel-yel kebanggaan, ya kebanggaan, pada jurusan yang diambil, dan suasana bahagia campur aduk. Beberapa berebut untuk berpose dengan latar belakang peristiwa yang terjadi, seperti spanduk, panji-panji fakultas, tulisan di dinding, apa saja. Ada banyak spanduk tergantung di atas ruangan dalam balairung, salah satunya "Proud to be the alumni of UI." Si sulung nyeletuk yang kurang lebih maksudnya enggan untuk berfoto dengan latar belakang spanduk itu. Ternyata si tengah juga mengamini pendapat kakaknya.

Aku jadi ingat masa-masa anak-anak masih di rumah bersama kami. Masa-masa aku masih mengantar, menunggui, dan menjemput mereka dari kegiatan. Aku terus bersama mereka, menjadi supir, penjaga, pengasuh, dan teman ngobrol mereka. Di saat itu aku ingat aku sering mendengarkan rekaman tausiah Aa' Gym ketika dai itu sedang kondang-kondangnya. Ada satu kalimatnya yang sungguh dalam. Kalimat itu intinya kalau kita merasa keren karena apa yang kita pakai -keren karena pakaian yang kita pakai, keren karena motor atau mobil yang kita pakai- itu sebenarnya berarti apa yang kita pakai lebih keren dari kita sendiri. Itu yang kami dengar di mobil dan juga kami bahas. Mungkin itu yang membekas padaku, juga pada anak-anak.

Buku Apa Itu Homeschooling
tulisan Aar Sumardiono.
Pendidikan itu mengeluarkan,
BUKAN memasukkan.
Sebagai orang tua yang mendidik dan mengajar anak sendiri di rumah, terus terang aku sering terkesima dengan apa yang dicapai anak-anak tanpa kami betul-betul mengajarkan pada mereka. Dari anak-anaklah kami justru banyak belajar, salah satunya bahwa Tuhan sudah membekali apa saja dalam seorang manusia. Sungguh terbukti seperti yang aku baca di buku Apa Itu Homeschooling tulisan Aar Sumardiono bahwa "Pendidikan itu mengeluarkan, bukan memasukkan." Dengan membacakan cerita ke Fattah, kami tercengang dia bisa mengenal huruf dan bisa baca sendiri. Dengan banyak bermain dengan teman-temannya, suatu sore terngiang Fattah memanggil namaku dan terdengar "bisa naik sepeda"; ternyata dia belajar mengendarai sepeda roda dua sendiri, sepeda milik temannya. Dengan menonton televisi, walau pun dibatasi, Fattah mengerti beberapa kata dalam bahasa Inggris, dan dengan latihan sendiri, dia mampu berkomunikasi seru tentang mobil dan Top Gear dengan Teo dari Kanada, suami dari sepupunya. Orang mengira aku mengajarinya bahasa Inggris. Sebagai guru, tentu saja aku bisa mengoreksinya kalau salah, tapi saat berbincang dengan grammar yang acakadut, pembicaraan tetap berlangsung dan tetap asyik. Jadi benar bahwa anak bisa belajar sendiri.
Fattah & Teo, sama-sama suka Top Gear.


Kembali ke rasa bangga yang sedang dibahas di sini, kalau ada yang berpendapat betapa hebatnya kami punya dua anak homeschooling yang sudah diwisuda, di universitas "bergengsi" pula, maka setelah menyaksikan apa yang terjadi dengan Fattah -dan aku yakin banyak anak-anak pembelajar mandiri lain- yang banyak sekali belajar dan menguasai sendiri beberapa hal, kami hanya bilang bahwa segala kehebatan ini semata-mata milik Tuhan. Segala yang disebut keberhasilan adalah hasil kerja keras dan milik Tuhan, serta campur tangan-Nya yang dominan.

Karena pemahaman akan rasa bangga yang berbeda, maka hal ini juga diharapkan mengubah nilai-nilai yang kita anut. Orang tua, ibu, ayah, guru, PNS, karyawan swasta, tukang sapu, peneliti, pemijat, menjadi biasa saja saat melaksanakan tugasnya dengan baik, karena itu memang tugasnya. Aku jadi terkenang peristiwa saat si sulung tidak naik kelas saat ia kelas 7. Ia tidak naik kelas dan sehari sebelum bagi rapor kami baru tahu bahwa esok si sulung akan tidak naik kelas. Saat itu dia sedang sakit thypus, wali kelasnya datang ke rumah untuk menengok setelah si sulung absen selama seminggu karena sakitnya itu. Dari gurunya itu kami tahu bahwa si sulung terancam tidak naik kelas. Kami kebingungan.


Karena aku yang sedang sakit hepatitis A, suamiku Ican pergi ke sekolah si sulung untuk mengetahui hal sebenarnya. Saat pulang, Ican cerita bahwa si guru berkata bahwa bahwa nilai rata-rata si sulung kurang dari 7,5 yang merupakan nilai rata-rata terendah di sekolah itu yang merupakan SMP favorit di kota kami. Jadi siapa pun dengan nilai di bawah 7,5 tidak akan naik kelas. Juga, menurut si guru, si sulung ini suka mendebat guru! Glek. Yang mengagetkan adalah kalimat tambahan si guru: "Anak itu tidak perlu pintar, yang penting harus menurut." Glek, glek. Katanya nilai anak harus di atas 7,5, artinya anak harus pintar bukan? Katanya lagi anak tidak perlu pintar tapi harus penurut? Jadi bagaimana yang benar? Sungguh membingungkan. 

Ketika di SMP, ia memang pernah bertanya padaku tentang pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya di sekolah -aku lupa tentang hal apa, karena mau membandingkannya dengan jawaban yang diterimanya dari guru bahasa Inggrisnya di sekolah. Saat itu ia berpendapat bahwa gurunya salah, dan seingatku memang gurunya salah. Setelah kejadian tidak naiknya di sulung, kami di rumah sempat meninjau kembali apa yang mungkin jadi membuat si guru tidak senang karena dikoreksi murid di depan kelas. Soal sopan santun mungkin jadi masalah di situ, tapi sebetulnya esensi murid tetap kritis seharusnya menjadi hal yang membahagiakan setiap guru. Ketika di kelas dan juga di rumah, aku sedapat mungkin merendahkan filter agar suasana kritis tetap terjaga. Walau pun guru dan orang tua, aku kan bukan "can do no wrong." Kemarin saat berbincang dengan si sulung, aku bilang bahwa aku tetap sayang dan bangga padanya karena ia mempertahankan apa yang menurutnya benar saat itu dengan cara mendebat pendapat guru. It took a lot of courage, dan seharusnya courage atau keberanian itu tetap harus dijaga. Kisah itu jadi kisah yang indah, bukan suatu aib yang harus ditutupi. Mungkin saat itu responku tidak se-"cool" sekarang, untuk itu aku minta maaf padanya. Tapi ternyata berprasangka baik pada Tuhan dan setiap kejadian itu seharusnya menjadi pilihan terbaik bagi siapa pun. 

Aku lebih suka mengganti beberapa perasaan yang disebut kebanyakan orang dengan bangga dengan sebutan rasa bersyukur. Jadi rasa bangga bukan berarti menjadi bagian dari institusi pendidikan favorit karena telah "berhasil" menghimpun murid-murid yang sudah pandai, tapi bersyukur berhasil mendidik dari yang nilainya rendah menjadi tinggi; atau dari murid yang tak mengerti menjadi mengerti. Institusi pendidikan seharusnya bangga dengan segala kerendahan hati menjadi bagian tempat menitipkan generasi muda kepada siapa tongkat estafet kepemimpinan ini akan diberikan dari generasi sebelumnya. Fokusnya bukan guru, dosen, kepala, atau institusi pendidikan secara umum, tapi pada tanggung jawab yang diberikan. Berterima kasih juga pada orang tua yang sudah percaya pada institusi pendidikan. Keberhasilan anak bukan hanya kerja keras institusi pendidikan, tapi juga segala yang ada di sekitarnya. Sebagai orang tua yang dua anaknya kos di luar kota, rasa berterimakasih bukan hanya kepada dosen, rektor, dan universitas, tapi juga pada penjaga kos yang mengeroki saat sakit, pada orang asing yang menolong saat terhuyung pusing saat sakit, pada pemilik warteg yang menyediakan makanan, tukang ojeg dari stasiun ke tempat kos, pada Ignasius Jonan yang membuat KRL semakin nyaman dari waktu ke waktu, pada kota Depok dengan segala kenyamanan dan ketidaknyamanannya. 


Rasa bangga yang benar seharusnya tidak diartikan sempit dan tidak membuat orang jadi jumawa. "Saya bangga jadi orang Indonesia" diterjemahkan menjadi perwujudan manusia yang toleran karena Indonesia yang plural, kerja keras karena Indonesia adalah bangsa yang melahirkan Borobudur dan banyak peninggalan yang megah lain, batik, songket, ikat, tenunan lain yang indah, kapal Pinisi, segala pahatan kayu, dan kerajinan tangan lain yang mempesona, tarian dan seni budaya lain yang adi luhung, sekaligus juga bangsa yang ikut dalam penghapusan penjajahan di muka bumi, yang maju kesejahteraan umumnya, yang ikut melaksanakan ketertiban dunia, dan hal-hal lain yang tertulis di Pembukaan UUD 1945. Bukan sekedar kebanggaan sempit yang hanya mengalahkan orang lain, alih-alih mengalahkan diri sendiri; bukan untuk menjadi yang asal adi kuasa, tapi merupakan bangsa dan negara yang ikut serta dalam terciptanya dunia yang damai.

Comments

Anonymous said…
Kau membuatku merenung, Bu Moi. "Rasa bangga" itu harus dipasang di tempat yang layak, biar tidak bikin seret langkah anak. Makasih, Bu Moi.
Moi Kusman said…
Terima kasih, Anna. Ini mengingatkan diri sendiri. Terus dan terus mengingatkan biar gak besar kepala :D
Restu Dewi said…
Bu Mpo, salam kenal saya berkunjung ya.. entah apa yang membawa saya sampai ke blog ini *yang pasti tentang homeschooling* tapi saya tidak bisa berhenti membaca blog ibu.. bagus2

terima kasih ya bu untuk pencerahannya
Saya juga baru saja diberi masukan oleh guru TK anak saya, Bu Moi.. bahwa anak saya terlalu banyak bertanya..
Moi Kusman said…
Dengan senang hati, Restu Dewi. SENANG sekali. Tersanjung. <3
Moi Kusman said…
Masukan bahwa anak Anda bagus, atau sebaliknya? Buat saya sih memang bawaannya anak itu banyak bertanya. Semangat!

Popular Posts