Anakmu BUKANLAH Anakmu

Kami di Bali 2007
Agar tidak jumawa dan mentang-mentang, aku selalu menasehati diriku sendiri bahwa anak-anak itu tidak minta dilahirkan. Kamilah -aku dan Ican- yang justru mendamba anak karena seperti "pantas"nya pasangan suami istri maka anak lahir dari konsekuensi rumah tangga. Jadi kalau kita minta anak menghormati kita sebagai orang tua mereka, maka terlebih dahulu kitalah sebagai orang tua memberi contoh dengan menghormati mereka sebagai bentuk penghormatan kepada sesama manusia, dan yang lebih atas lagi sebagai bentuk penghormatan pada ciptaan-Nya sebagai bentuk pasrah kita untuk menghamba pada tidak lain selain pada-Nya.

Tidak jarang keberadaan anak dalam keluarga, terutama anak kandung dari sperma ayah dan sel telur ibu, menjadi kebanggaan dan bukti "keperkasaan" suami istri; si suami dan istri tidak mandul, mampu punya anak. Padahal, seperti yang pernah aku dengar di salah satu tausiah Aa' Gym, tidak usahlah sombong kalau kita bisa punya anak, karena binatang juga bisa punya anak. Sering keinginan orang tua punya anak menjadi lebih heboh daripada saat pengasuhan mereka sejak bayi hingga dewasa. Bukan aku tidak setuju anak diasuh orang lain karena di beberapa keadaan mungkin keberadaan pengasuh diperlukan; tapi bukankah kita yang menginginkan anak itu? Sebagai apa? Hanya cukup sebagai trofi kemenangan? 

Aku jadi teringat puisi Kahlil Gibran tentang anak yang saat aku pertama membacanya di awal SMA, aku sama sekali tidak mengerti apa makna yang terkandung di dalamnya. Alhamdulillah pelan-pelan aku paham.

On Children
 Kahlil Gibran

Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life's longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.
You may give them your love but not your thoughts, 
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow, 
which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them, 
but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.
You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite, 
and He bends you with His might 
that His arrows may go swift and far.
Let your bending in the archer's hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies, 
so He loves also the bow that is stable.

Diterjemahkan:

Anak
Kahlil Gibran

Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka adalah anak yang rindu pada kehidupan mereka sendiri.
Mereka lahir melaluimu namun bukan berasal darimu.
Walaupun mereka bersamamu namun mereka bukan milikmu.
Kau dapat curahkan mereka kasih sayangmu tapi tidak dapat kau curahkan pikiranmu,
Karena mereka dikaruniai pikiran mereka sendiri.
Kau dapat beri rumah untuk raga mereka tapi tidak bagi jiwa mereka,
Karena jiwa mereka milik masa datang, yang tak bisa kaudatangi bahkan dalam mimpi sekali pun.
Kau dapat berusaha seperti mereka, tapi tak usah menuntut mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan tidak terhambat di masa lampau.
Kau adalah busur darimana anak-anak yang merupakan panah yang hidup dilesatkan.
Pemanah mengetahui sasaran bidik melalui jalur keabadian,
Dan Dia menantangmu dengan kuasa-Nya sehingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam liukan sang pemanah;
Sebab Dia mengasihi panah-panah yang melesat secepat kilat,
Sebagaimana pula kasih-Nya pada busur yang kokoh. 


Kemarin aku mendengar keluhan seorang perempuan -baru beberapa tahun lulus perguruan tinggi negeri di Bandung- tentang ibunya yang memaksakan kehendaknya agar si anak bekerja sebagai PNS. Walau aku sering mendengar ungkapan "mother knows best", tapi sering aku harus mengingatkan diri sendiri bahwa mungkin apa yang aku tahu itu masih terbatas. Banyak hal lain yang kita belum tahu, tidak tahu, bahkan tidak pernah tahu. Untuk itu aku sering seperti orang bilang bermain layangan karena aku tidak bisa main layangan: bermain ulur tarik. Komunikasi menjadi hal yang krusial, dan komunikasi tidak bisa dibangun setahun dua tahun.

Aku sering ingatkan diri sendiri dan orang lain yang sudah menjadi orang tua untuk biarkan anak jadi diri mereka sendiri. Banyak pekerjaan yang ratusan tahun lalu belum ada dan sekarang ada. Jadi siapa tahu anak kita salah satu yang berprofesi itu. Bantu anak kita untuk menemukan apa yang menjadi minatnya, dan siapa tahu minatnya itu menjadi profesinya di masa depan. Seperti kata Confusius, "Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life." - Pilih pekerjaan yang kau sukai, dan kau tak akan pernah kerja sehari pun dalam hidupmu. 

Tulisan Khalil Gibran dalam bahasa Inggris diambil dari sini.

Comments

desy puspita said…
agghhh....luar biasa ibuuu.....jd suka banget sama tulisan muuu.....sungguh sederhana tp mengena di jiwa
Moi Kusman said…
Terima kasih banyak sudah mampir & memberi apresiasi, @Desy. Semoga manfaat ya.

Popular Posts