Mengikuti Sharing "Parent As Coach, Pendekatan Coaching Dalam Pengasuhan Anak Remaja", Dari Seorang Coach Profesional

Sesi Parenting "Parent as a Coach"
Bermula dari curhat tentang masalah anak dari seseorang yang dekat denganku yang cukup membuatku ikut prihatin. Karena ingin mencari solusi, aku bagikan curhat itu pada Shanty Syahril suatu hari lewat whatsapp. Dari ngobrol di wa itu aku jadi tahu bahwa untuk kasus tertentu yang bagi orang awam seperti aku ini akan pergi ke psikolog, ternyata ada juga yang bisa dibantu oleh program yang namanya coaching. Dari Shanty aku tahu ada Coaching Indonesia di mana kakak iparnya, Naindra Pramudita Kartohadiprodjo dipanggil Dita, bekerja sebagai profesional coach. Coaching ini aku pikir umumnya untuk korporat, tapi ternyata juga bisa untuk Personal Coaching di mana di dalamnya ada beberapa coaching, dan yang mungkin dibutuhkan buat kasus seseorang yang dekat denganku itu adalah Career Coaching.  Shanty saat itu bercerita akan meminta Dita untuk bisa datang share ke orangtua homeschooler di Klub Oase. Wah, bungah hatiku. Harinya pun tiba dan aku bisa berkenalan dengan Dita, hadir di sesi sharingnya, dan belajar darinya. Ini apa yang aku dapat. 

Menurut Dita, coaching itu itu seperti operating system dalam badan manusia. Sebagai orangtua, by default mereka adalah coach. Dengan coaching, orangtua diharapkan menjadi conscious parents, orangtua yang dengan sadar, mawas diri, menjadi orangtua buat anak-anaknya.

Dita memulai sesi dengan mengutip ucapan Kahlil Gibran; pernah aku tulis juga di sini, yaitu:

On Children
Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life's longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.
You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls, 
For their souls dwell in the house of tomorrow,
which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them, but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.
You are the bows from which your children as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite,
and He bends you with His might that His arrows may go swift and far. 
Let your bending in the archer's hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies, 
so He loves also the bow that is stable.

Anak
Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka adalah anak yang rindu pada kehidupan mereka sendiri.
Mereka lahir melaluimu namun bukan berasal darimu.
Walaupun mereka bersamamu namun mereka bukan milikmu.
Kau dapat curahkan mereka kasih sayangmu tapi tidak dapat kaucurahkan pikiranmu.
Karena mereka dikaruniai pikiran mereka sendiri.
Kau dapat beri rumah untuk raga mereka tapi tidak bagi jiwa mereka.
Karena jiwa mereka milik masa datang, yang tak bisa kaudatangi bahkan dalam mimpi sekali pun.
Kau dapat berusaha seperti mereka, tapi tak usah menuntut mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan tidak terhambat di masa lampau.
Kau adalah busur dari mana anak-anak yang merupakan panah yang hidup dilesatkan.
Pemanah mengetahui sasaran bidik melalui jalur keabadian.
Dan Dia menantangmu dengan kuasa-Nya sehingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam liukan sang pemanah;
Sebab Dia mengasihi panah-panah yang melesat secepat kilat.
Sebagaimana pula kasih-Nya pada busur yang kokoh.

Seperti apa yang diucapkan oleh Kahlil Gibran, maka orangtua itu "hanyalah" busur, dan anak adalah anak panah. Anak itu partner. Orangtua sangat penting untuk selalu bertumbuh. Dari anaklah orangtua belajar, bahkan relearn, mempelajari ulang ilmu-ilmu yang mungkin sudah usang. Karena orangtua itu busur, maka ia harus kuat dan dalam kondisi baik saat melepas anak. Kelebihan orangtua hanyalah lahir lebih dulu. Padahal 20 tahun mendatang orangtua tidak tahu apa yang akan terjadi. Jadi orangtua mempraktekkan apa yang mereka inginkan untuk anak lakukan. Kalau ingin anak mudah mengucapkan maaf, maka orangtua dululah yang harus mempraktekkannya. Tidak bisa orangtua terus menerus memakai power, ilmu "kudu", ilmu "pokoknya".

Gambar dari sini
Parent as coach maksudnya adalah agar orangtua bermitra dengan anak kita, dalam suatu hubungan dan komunikasi yang mendorong proses kreatif, untuk memaksimalkan potensi anak dan orangtua secara pribadi.

Coach itu salah satu arti dalam bahasa Inggrisnya itu kereta kuda. Di masa modern ini  seperti di Amerika pada umumnya, penggunaannya bisa berarti kelas ekonomi dalam pesawat atau kereta. Jadi coach itu membawa seseorang dari satu titik ke titik berikutnya. Coach bekerja ke arah masa depan dan berfokus pada tujuan.

Di dunia olahraga misalnya, atlet dan klub terkenal, selalu ada coach, bahkan untuk mereka yang sudah kelas dunia. Tujuannya untuk memaksimalkan orang-orang dengan kemampuannya sudah bagus. Coaching adalah proses kemitraan. Orang justru jadi belajar dari dirinya. Di perusahaan, arti coach adalah perkembangan dan diberikan pada mereka dengan high performer.

Anak Anda adalah the best teacher. Anda adalah the best teacher bagi anak Anda. Dua itu adalah mitra dalam hidup. Saat proses bertumbuh, orangtua sebagai coach juga akan bertumbuh dengan coachee kita yaitu anak kita. 

Seperti kalimat "hidup adalah pilihan", Dita memperkenalkan adanya Choice Theory oleh William E. Glasser
  • Teori ini menjelaskan perilaku manusia.
  • Bahwa yang bisa mengendalikan perilaku seseorang adalah orang itu sendiri.
  • Kita hanya bisa memberikan informasi kepada orang lain. Penerima info bisa memilih apakah informasi itu mau digunakan atau tidak.
  • Tantangan terbesar manusia sepanjang zaman adalah soal hubungan antar manusia (relationship).
 Menurut Choice Theory ada 7 Caring Habit:
1.     Supporting, mendukung.
2.     Encouraging, mendorong.
3.     Listening, menyimak.
4.     Accepting, menerima.
5.     Trusting, mempercayai.
6.     Respecting, menghormati.
7.     Negotiating differences, merembukkan perbedaan.

Dan ada 7 deadly habits:
1.     Criticizing, mencela.
2.     Blaming, menyalahkan.
3.     Complaining, mengeluh.
4.     Nagging, menggerutu.
5.     Threatening, mengancam.
6.     Punishing, menghukum.
7.     Bribing, rewarding to control; menyogok, memberi hadiah untuk mengendalikan.

Lalu dijelaskan peran orangtua seperti ditulis oleh Diana Sterling dalam bukunya The Parent as Coach Approach di usia berikut:
  • 0 – 7 tahun, sebagai guru.
  • 7 – 14 tahun, sebagai administrator.
  • 14 – 21 tahun, sebagai coach.
Dan ada 7 cara hubungan orangtua dan anak:
  1. If you RESPECT me, I will hear you; jika orangtua menghargaiku, aku akan mendengarmu.
  2. If you LISTEN to me, I will feel understood; jika orangtua menyimakku, aku akan merasa dimengerti.
  3. If you UNDERSTAND me, I will feel appreciated; jika orangtua mengerti aku, aku akan merasa dihargai.
  4. If you APPRECIATE me, I will know your support; jika orangtua menghargaiku, aku jadi tahu bahwa orangtuaku memberi dukungan.
  5. If you SUPPORT me as I try new things, I will become responsible; jika orangtua mendukungku saat aku mencoba hal baru, aku akan menjadi orang yang bertanggungjawab.
  6. If I am RESPONSIBLE, I will grow into independent; jika aku bertanggungjawab, aku akan tumbuh jadi mandiri.
  7. In my INDEPENDENCE, I will respect you and love you all of my life; dalam kemandirianku, aku akan menghormati dan mencintai orangtuaku sepanjang hidupku.
Menurut www.coachfederation.org, orangtua sebagai coach harus membangun rasa percaya dan keakraban; establishing trust and intimacy.
  
Di sana disebut 3 Kompetensi Penting Coaching:
  • Presence: kemampuan untuk hadir sepenuhnya saat berkomunikasi atau berinteraksi dengan anak.
  • Active Listening: kemampuan untuk menangkap dan memahami kata-kata, emosi dan makna tersirat dalam interaksi dengan anak.
  • Powerful Questioning: kemampuan mengajukan pertanyaan yang membuat anak berpikir.
Setelah Powerful Questioning di atas, ada Direct Communication atau kemampuan memberikan feedback, menyampaikan observasi kita pada anak dengan cara yang direct, tidak berbunga-bunga. Lalu kemudian ada Designing Action, di mana elalu ada action plan. Action plan ini tidak selalu harus tangible atau terlihat, terukur. Bisa saja berupa komitmen anak. Yang terakhir adalah Managing Accountability. Accountability/Kewajiban-nya akan ditentukan oleh anak sebagai coachee, bukan dari orangtua atau coach. Artinya 50% akan ada komitmen. Karena komitmen datang dari anak, maka akan lebih bermakna. Lalu orangtua dapat melakukan follow up dan review. Misalnya anak berjanji akan mempelajari topik A, maka orangtua dapat melakukan follow up dan review dengan bertanya pada anak bagaimana orangtua dapat mengecek apakah anak sudah mempelajari A; dan biarlah anak itu sendiri yang akan memberi jawabannya.

Dari apa yang kudengar tadi dari pemaparan Dita, otak manusia itu dari perut, dari hati,  dan dari kepala. 2 tempat yang disebut pertama itu pemberi informasi. Dalam coaching, 2 tempat itu adalah intiusi, tanpa logika. Hal ini bukan hal klenik, tapi kita sering diajarkan untuk mengabaikan yang dirasakan. Dalam ilmu coaching info dari 2 tempat itu penting, karena akan mengajari kita untuk masuk ranah ke anak dalam tujuan membangun rasa percaya dan keakraban. Dan ketika kita mampu memanfaatkan semua indera -tidak hanya indera telinga untuk mendengarkan saja, tapi juga indera lain yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa, maka kita dapat melakukan coaching dengan baik.

Kata-kata yang digunakan saat bertanya itu penting. Itu sebabnya ilmu Neuro-Linguistic Programming (NLP) itu banyak dipelajari. Tidak ada jawaban yang salah. Yang ada adalah pertanyaan yang salah. Pertanyaan membuat otak kita bekerja dengan cara yang berbeda. Contoh sederhana kita akan mendapat respons yang berbeda dari dua pertanyaan di bawah ini:
- Nanti siang mau makan apa?
- Nanti siang mau makan gado-gado atau nasi Padang?

Orangtua harus menyadari bahwa tujuan utama coaching adalah creating awareness. Ini yang harus diciptakan saat berinteraksi dengan anak. Untuk membuat new awareness, biasanya di sanalah ada shifting energy.
  
Mari kita bahas 3 kompentensi penting yang wajib dimiliki orangtua sebagai coach.

PRESENCE:
  • BE HERE & NOW: Hadir utuh. Ini tidak mudah, karena di kepala ada monkey thought atau, seperti yang pernah kupelajari saat mengikuti meditasi disebut monkey mind. Perlu bagi orangtua untuk membangun awareness.
  • BE PATIENT: Sabar, merespons pada saat yang tepat.
  • BE CURIOUS: Bangun rasa ingin tahu dengan cara menahan diri untuk memberi nasihat atau saran. Ingin tahu itu beda dengan kepo. Kepo itu mendapat info buat orangtua. Sementara "curious" itu buat kepentingan anak. 
Ada cara untuk orangtua membangun "Presence:"
  • Stretching
  • Latihan “hening”: pernapasan, meditasi, yoga, chikung.
  • Terhubung dengan dan mendengarkan tubuh.
  • Melatih 3 pertanyaan: saya di mana, sedang apa, mau ke mana.
  • Observasi diri.

ACTIVE LISTENING:
Perlu disadari bahwa penghambat manusia untuk mendengarkan orang lain adalah adanya Self Talk yang berupa:
  • judgement,
  • asumsi,
  • asosiasi
Penting untuk menahan reaksi untuk spontan berkomentar. Buat orang lain yang tertangkap dari kita sebanyak 93% BUKAN dari kata-katanya melainkan reaksinya. Perlu 0,7 detik untuk memutuskan, apakah akan melakukan response atau react. Tarik napas yang dalam agar kita bisa mencuri waktu agar tidak bereaksi dari judgement, asumsi atau asosiasi kita.

3 elemen penting dalam mendengarkan dan mempraktekkan Active Listening:
·      Elemen 1. Kata Kunci
·      Elemen 2. Emosi
·      Elemen 3. Makna Tersirat

Elemen 1. Kata Kunci (Keywords) - Yang Terucap
Perhatikan beberapa kata tertentu yang mewakili inti cerita dari anak. Ciri-ciri yang perlu diperhatikan orangtua:
  • Kata-kata yang diucapkan dengan intonasi tertentu.
  • Anak menggunakan istilah unik atau analogi.
  • Kadang diucapkan anak lebih dari satu kali.
  • Tidak jarang kata-kata diucapkan disertai emosi.
Elemen 2. Emosi - Yang Terasa
Orangtua diharapkan mendengarkan bukan hanya memakai telinga saja, tapi semua indera. Perhatikan:
  • Kata-kata yang mewakili emosi anak: bingung, ragu, happy.
  • Kalimat: …………, tapi ……..
  • Ada penekanan dengan bahasa tubuh anak.
  • Rasakan perubahan energi pada anak.
Elemen 3. Makna Tersirat - Yang Dipahami oleh Orangtua
Perhatikan kata-kata dan emosi anak. Pahami:
  • Apa yang menjadi keinginan dan harapan anak.
  • Apa yang anak butuhkan: arahan, dukungan/bantuan, kejelasan.
  • Apa yang menjadi masalah atau hambatan anak.
Setelah mendapat kata-kata kunci, maka orangtua mengolahnya untuk dijadikan Powerful Questioning.

Orangtua wajib mengerti Prinsip Coaching:
  • Mau ke mana?
          - Ke mana tujuan anak?
          - Bagaimana kriteria pencapaian tujuan itu?
          - Apa yang memotivasi atau dorongan anak untuk mencapai ke tujuan?
  • Ada di mana sekarang?
          - Apa kekuatan/potensi diri anak?
          - Apa saja tantangan (hambatan) yang dihadapi?
          - Bagaimana situasi mental?
  • Bagaimana caranya?
           - Apa ide/kreativitasnya?
           - Adakah alternatif pilihan?
           - Apa rencana tindakannya?

PROSES KREATIF:
  • Simak, dengarkan dengan aktif.
  • Ajukan pertanyaan berbobot untuk menggali dan memancing ide.
  • Ganti “Kenapa? dengan “Apa penyebabnya? “Apa alasannya?”
  • Ganti pertanyaan tertutup: “Pernahkah?”, “Sudahkah?”, dengan pertanyaan terbuka: “Apa?”, “Seberapa?”.
Pertanyaan Berbobot adalah berupa pertanyaan terbuka:
  • Diawali dengan "Apa?", "Seberapa?", "Bagaimana?", "Siapa?", "Di mana?", "Kapan?"
  • Digunakan untuk menggali dan memetakan.
  • Memancing cara berpikir kreatif.
Bukan Pertanyaan Berbobot adalah:
Pertanyaan Tertutup:
  • Apakah? Pernahkah? Sudahkah? Ya atau tidak?
  • Pertanyaan tertutup sesekali digunakan hanya untuk mengecek kebenaran, BUKAN untuk menggali.
Pertanyaan Menjurus (Leading Question):
  • Dipengaruhi oleh judgement/asumsi pribadi.
  • Bertendensi menghakimi.
Kriteria Deep Questioning
  1. Fokus pada anak. Pertanyaan Anda membuat ia mengingat, merenung atau merangkai informasi.
  2. Right Timing. Ditanyakan di momen yang tepat.
Deep Questioning Model
Deep Listening: mendengarkan kontennya, maknanya, ,mengamati emosi, memperhatikan kebenaran informasi anak.
Deep Questioning: dorongan, keinginan, asumsi, hambatan.

Dari dalam/internal adanya Deep Presence atau kehadiran utuh yang berfokus pada anak. Lalu timbulnya kesadaran. Dilanjutkan dengan tampak luar/eksternal adanya komitmen untuk beraksi dengan adanya ide, pilihan, rencana tindakan, strategi. 

Lalu Dita bercerita tentang Golden Circle dari Simon Sinek yang pernah juga aku tonton di ted.com. Lingkaran yang disebut Sinek itu ada 3 dan dimulai dari dalam ke luar, BUKAN  sebaliknya, yaitu:
  • Why? Yaitu Clarity atau kejelasan terhadap dorongan, keinginan, dan tujuan akhir yang ingin dicapai. Dicari tahu pula tentang concern, hambatan mental, dan asumsi.
  • How? Ide atau alternative pilihan
  • What? Rencana tindakan yang akan dilakukan.


Dalam melakukan coaching orangtua sebaiknya menetapkan aturan main, misalnya saat melakukan coaching pada beberapa anak, ada kesepakatan bahwa misalnya tiap anak diberi kesempatan berbicara. Saat satu seperti mendominasi, diberi kesempatan pada yang lain untuk juga ikut berbicara. Konsistensi itu adalah salah satu penting. Orangtua sebagai coach harus memilih segala kata-kata agar semuanya terfokus pada anak. Kalimat seperti: "I am proud of you," kalau disadari maka pusatnya adalah orangtua, BUKAN anak. Ketika memuji "Bagus" atau "Hebat" misalnya, coba untuk lebih spesifik, seperti: "Wah, hebat ya kamu bisa menyelesaikan tepat waktu." Atau "Keren deh kamu bisa menyebutkan binatang apa saja yang sekarang sudah punah setelah membaca bukunya Wallace." Jadi beri penghargaan pada pencapaian anak dengan detil.

Dita juga menunjukkan beberapa buku yang menjadi bacaannya sebagai coach. Ada buku "The Conscious Parent" tulisan Shefali Tsabary, PhD, lalu "How to Talk So Teens Will Listen & Listen So Teens Will Talk" tulisan Adele Faber & Elaine Mazlish. Juga kartu-kartu pengingat orangtua dari buku The Parent as Coach Approach tulisan Diana Sterling.

Sebagai orangtua homeschooling aku merasakan pentingnya sharing ini. Walau sudah memiliki anak yang berusia 25 tahun dan 23 tahun, adanya si bungsu yang berusia 14 tahun masih memberiku energi untuk terus belajar. Kemudian, apa yang menjadi curhat orang yang dekat denganku seperti ceritaku di awal tulisan ini, menjadikanku makin sadar bahwa aku belum banyak tahu. Dita berjanji pada kami akan ada lanjutan sesi berikutnya. Tak sabar rasanya. 


Akhirnya jumpa Dita. 

Comments

Sukma ST said…
Keren dan komplit banget mba Moi. Thanks a lot.
Sehat terus ya mba Moi. Love you.
Wimurti Kusman said…
Amin. Terima kasih, Sukma.
Fifi Awang said…
Kemarin tidak sempat datang. Alhamdulillah bisa tetap dapat ilmunya. Teirmakasih ya mba Moi.

Popular Posts