Kamis, Januari 12, 2017

Fattah Murid Intermediate 2 Baru di LIA Cilegon

Dengan buku Smart Choice

Tes Penempatan LIA

Jumat, 30 Desember 2016 lalu Fattah melaksanakan tes penempatan (placement test) untuk kelas EA (English for Adults) di LB-LIA Cilegon. Setelah lulus dari kelas ET (English for Teens) level 12 di bulan September sebelumnya, Fattah seharusnya dapat langsung melakukan tes penempatan untuk kelas EA, tapi ia memintaku untuk menunda kursus (postpone) selama 1 term yang lamanya 3 bulan, dari bulan Oktober sampai Desember 2016. Setelah menunda selama 1 term, Fattah siap untuk ikut EA di term berikutnya yang mulai Januari 2017.

It is in the family tradition

Abang dan kakak Fattah juga tamatan LIA. Seperti Fattah, mereka juga mulai kursus di LIA sejak kelas EC (English for Children) yang terdiri dari 12 level, lalu dilanjutkan ET (English for Teens), lalu tamat EA (English for Adults) yang juga 12 level. Setiap kelas selalu ada tes penempatan. Abang dan kakak tidak mulai dari level paling bawah, jadi mereka tidak sepenuhnya menjalani 12 level di setiap kelas tergantung dari hasil tes penempatan. Waktu baru pertama kali masuk LIA, Fattah memulainya di kelas EC 3A. Kelas EC disesuaikan dengan kelas anak di sekolah, atau dalam hal Fattah yang tidak sekolah, dilihat dari umurnya kala itu. Lulus dari EC 6B, Fattah ikut tes penempatan untuk kelas ET dan masuk di level ET 4 dan menamatkan kelas tersebut sampai ET 12.
Formulir Ujian Masuk Kursus Bahasa Inggris LIA

Mengapa LIA?

Mengapa kami memilih LIA? Di tahun 80an aku menamatkan LIA di LIA Pramuka dan merasakan manfaatnya. Lalu di setelah menikah dan tinggal di Cilegon, aku adalah salah satu dari guru LIA Cilegon yang pertama. Karena dirasa banyak gunanya, anak-anak juga aku sarankan untuk ikut kursus di sana. Mengapa bukan yang lain? Di Cilegon beberapa tahun setelah LIA berdiri juga ada EF. Mengapa bukan EF? Alasan utamanya adalah biaya yang lebih mahal. Sebagai guru LIA, aku juga mendapat diskon kalau anak-anakku ikut kursus di LIA sebesar 25%. Lumayan. Alasan lain, aku tahu bahwa pelatihan guru LIA itu cukup berat dan –kalau tidak salah- LIA adalah satu-satunya kursus Bahasa Inggris yang memiliki divisi Diklat, paling tidak untuk saat itu. Menjadi calon guru LIA tidak mudah. Lulusnya pun juga tidak mudah. Itulah alasan-alasanku. 

Kurang afdol kalau tidak melakukan 'dab.'

Apa manfaat kursus di LIA?

Pernah aku ditanya, kalau tidak salah oleh salah satu rekan guru, apa manfaat kursus di LIA  bagi anak-anakku. Anak-anak yang besar menjawab bahwa LIA mengajari mereka bagaimana menulis dengan baik. Sejak awal LIA mengajari siswa bukan hanya untuk berbicara, bercakap-cakap dalam conversation, melakukan persentasi, juga menulis mulai dari kalimat sederhana, lalu paragraf, lalu esay. Di ujian akhir di setiap level, siswa diminta untuk menulis di bagian akhir ujian. Tingkat kesulitan tentunya meningkat. Di level yang lebih tinggi, siswa diajari lagi menulis berbagai macam jenis esay seperti expository, descriptive, narrative, sampai persuasive/argumentative. 

Uang kursus selama 3 bulan dengan diskon 5% karena membayar tunai.

Belajar menulis dengan terstruktur

Anak-anak terbesar mengakui bahwa di saat kuliah mereka jadi terbiasa untuk menentukan bagaimana menulis pembukaan sebuah esay, menulis isi, lalu menutupnya. Yang menantang adalah saat menulis persuasive/argumentative essay di mana siswa diharuskan untuk menuliskan opini mereka dan alasannya. Di level akhir EA yaitu Higher Intermediate 4, pada saat ujian akhir, siswa diharuskan untuk menulis sebanyak 350-400 kata. Selain itu, sebagai syarat kelulusan, siswa diwajibkan untuk menulis persuasive/argumentative essay sebanyak 600 kata, lalu mempresentasikannya di hadapan penguji. Nah, kemampuan menulis persuasive/argumentative essay inilah yang dirasa anak-anak terbesar sangat berguna saat kuliah. Mereka jadi mudah menuliskan pendapat apa yang ada di kepala mereka, dan mempertahankan argumen mereka dalam tulisan.

Diterima di Intermediate 2.

Pengumuman itu

Hari Selasa sore, 3 Januari 2017 adalah hari pengumuman hasil tes penempatan. Aku bercerita pada Fattah, bahwa saat masuk EA, seingatku si abang diterima di level Intermediate 2 dan si kakak di Intermediate 3. Aku menelepon LIA untuk menanyakan apakah hasil Fattah sudah keluar. Semua tes penempatan di LIA yang menggunakan pensil 2B karena dikerjakan di kertas khusus komputer itu dibawa ke LIA pusat untuk diperiksa oleh komputer di sana. Terdengar jawaban di ujung sana bahwa hasilnya sudah keluar. Dan Fattah, sama seperti abangnya, mendapat level Intermediate 2. Dan petualangan Fattah di kelas EA di Lembaga Bahasa – LIA pun dimulai.


Minggu, Januari 01, 2017

Mencoba Memasak Nasi Tim Ayam di Rice Cooker

Atas: Kaldu & Nasi berbumbu, ada cetakan nasi dari batok kelapa
Bawah: Isian ayam & piring berisi campuran semuanya.
Setelah sekian lama ingin mencoba tapi ragu karena tidak punya mangkok untuk mengukus satu per satu porsi nasi tim, hari ini akhirnya aku mencoba untuk memasak nasi tim ayam di rice cooker. Selain alasan tidak adanya mangkok, alasan lainnya adalah, tidak adanya kukusan besar untuk mengukus seandainya pun aku memutuskan untuk membeli mangkok aluminium. Alasan ke tiga, dan ini yang lebih mendominasi adalah: agar praktis saja (baca: aku malas).

Setelah mencari, akhirnya resep yang aku pakai untuk membuat nasi tim ayam jatuh pada tautan ini, dengan tentunya dimodifikasi sana sini dengan situasi dapur yang ada. Sayangnya, sudah semingguan ini tidak ada jamur kancing di Cilegon. Sudah memesan pada 2 tukang sayur langganan dan lihat di pasar Pagebangan dekat rumah, juga tidak ada. Jamur jenis ini memang cukup jarang di kotaku.

Ini langkah-langkah membuat nasi tim ayam rice cooker dari resep di atas:

I. Merebus ayam untuk membuat nasi dan kaldu:
  • Tulang dari satu ekor ayam yang sudah diambil dagingnya, masukkan dalam panci tekan.
  • Air sesuai selera, tadi aku masukkan 4 liter.
  • Garam secukupnya
  • Rebus selama 25 menit.
II. Nasi untuk nasi tim:
  • Aku pakai beras merah dicampur putih 50:50 (karena di rumah adanya itu). Silakan diganti dengan beras putih saja, dicuci bersih. 
  • 5 siung bawang putih dicincang.
  • 2 ruas jari jahe dicincang.
  • Minyak secukupnya untuk menumis dua bahan di atas. Aku memakai minyak zaitun. Silakan pakai minyak apa saja.
  • Garam sesuai selera.
  • Merica sesuai selera.
  • Masukkan tumisan di atas ke dalam beras yang sudah dicuci.
  • Tambahkan kaldu dari bagian I sesuai takaran rice cooker. Menurutku ditambahkan airnya lebih baik agar nasi jadi sedikit lembek.
  • Masak nasi di rice cooker.
III. Isian ayam dan jamur (jika ada) untuk nasi tim:
  • Filet ayam yang sudah dipotong dadu.
  • Jamur kancing dipotong sesuai selera.
  • 5 siung bawang putih dicincang.
  • 5 siung bawang merah atau 1 butir bawang bombay dicincang.
  • 2 ruas jari jahe dicincang.
  • Minyak secukupnya untuk menumis bahan-bahan di atas. Aku memakai minyak zaitun. Silakan pakai minyak apa saja.
  • Setelah harum masukkan ayam. Aduk sampai berubah warna.
  • Masukkan jamur, aduk rata. Lalu masukkan bahan di bawah ini.
  • 2 sendok makan saus tiram.
  • 2 sendok makan minyak wijen.
  • 3 sendok makan kecap manis.
  • Garam sesuai selera.
  • Merica sesuai selera.
  • Cicipi dan tambahkan bahan sesuai selera.
IV, Kaldu nasi tim.
  • 5 siung bawang putih dicincang.
  • 2 ruas jari jahe dicincang.
  • Minyak wijen untuk menumis dua bahan di atas. Karena menurut resepnya ditumis pakai minyak wijen, dan aku terus terang belum punya punya pengalaman mengganti minyak wijen dengan minyak lainnya -siapa tahu mungkin bisa; maka aku patuhi. Memang aromanya terasa beda.
  • Merica sesuai selera.
  • Garam sesuai selera.
  • Daun bawang cincang dimasukkan terakhir.
  • Cicipi dan tambahkan bahan sesuai selera.
Nasi tim siap dimakan.
V. Cara menghidangkan.
  • Ambil nasi. Dicetak bila perlu agar cantik.
  • Ambil ayam secukupnya.
  • Siram dengan kaldu.
  • Hidangkan dengan sambal bila suka. Aku tidak membuat sambal seperti yang ada di resep yang aku contoh. Kami makan pakai saus sambal jadi saja.
  • Tambahkan kecap asin bila suka.
Karena sengaja memakai bawang putih dan jahe yang cukup banyak, sangat dominan sekali rasa keduanya. Kami juga senang memakai merica yang cukup banyak agar rasanya kaya. Buatku yang mengurangi protein hewani, akan lebih enak lagi kalau jamur tersedia. Selamat mencoba. 😊😊

Senin, Oktober 10, 2016

Ansos For Homeschoolers Semarang, Masalah Di Dunia Pendidikan Indonesia

Inventarisasilah apa saja masalah di dunia pendidikan Indonesia, tingkat nasional maupun daerah Anda masing-masing (propinsi/kota/kabupaten

1.         Terlalu generalisasinya pendidikan untuk Indonesia yang majemuk ini.
2.         Guru cuma punya sedikit parameter dalam menilai anak.
3.         Keberagaman tidak dihargai bahkan dimatikan.
4.         Anak-anak harus belajar banyak mata pelajaran.
5.         Masih berpijak pada buku materi, kewajiban berseragam sekolah dan bersepatu, di mana siswa harus membeli, atau menjadi malu jika tidak punya/memakai.
6.         Walau pun sudah banyak mata pelajaran yang dipelajari, tetap saja harus ikut les pada guru sekolahnya, atau ikut bimbingan belajar lagi.
7.         Dipaksakannya membaca dan menulis di tingkat TK.
8.         Tidak terampilnya petugas Kemendikbud di daerah, seperti penulisan nama yang sering salah, lambatnya mengeluarkan ijazah.
9.         Mental petugas (termasuk guru) masih mental minta dilayani, bukan melayani.

10.   Guru-guru yang tertambat di masa lalu dan sedikit mau berubah dan elajar, padahal guru-guru tersebut adalah kelahiran abad 20, mengajar anak-anak abad 21, dengan gaya yang belum berubah sejak abad 19.

Ansos For Homeschoolers Semarang, CV Saya

Curriculum Vitae / biodata pribadi, terutama menceritakan kerja-kerja yang pernah dilakukan di bidang pendidikan/homeschooling, dan alasan menjadi homeschooler

Nama                                      : Wimurti Kusman (Moi)
Tempat tanggal lahir               : Jakarta, 20 Desember 1962
Status                                     : Menikah, dengan tiga orang anak.
Alamat                                     : Pondok Cilegon Indah Blok D 103 no. 1 Cilegon, Banten.
Pekerjaan                                : Ibu rumah tangga, guru Bahasa Inggris.

Saya sebelumnya tidak pernah merencanakan untuk melakukan homeschooling bagi anak-anak kami. Saya adalah ibu yang boleh dibilang ‘posesif’ yang tidak rela pengasuhan anak dikerjakan oleh orang lain. Jadi sejak pagi hingga malam hari, anak-anak dipegang oleh saya dan suami, yang kebetulan berprinsip serupa. Saya memang tidak pernah ingin bekerja kantoran yang mengharuskan saya untuk berangkat pagi, pulang sore; jenis pekerjaan nine to five, Senin sampai Jumat. Saya bukan tipe ibu atau perempuan yang lebih suka kongkow-kongkow dengan teman, sementara anak-anak dengan pengasuh. Kalau pun itu saya lakukan, maka saya akan bawa serta anak-anak saya karena rasa ketidak-percayaan saya. Karena sifat pengasuhan saya yang demikian, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, maka anak-anak tumbuh dekat dengan saya dan ayah mereka. Kami membesarkan anak-anak berdua, sambil belajar, jatuh, dan bangun.

Saat menyekolahkan anak-anak, mulailah kami melihat pola pengasuhan yang dilakukan orang lain, juga pola pendidikan dan pengajaran yang dilakukan guru-guru anak-anak yang kami temui sejak masih TK. Mulailah kami berbenturan dengan ketidaksetujuan pada pengasuhan, terutama yang dicontohkan orangtua murid teman anak-anak, juga pada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru di sekolah. Kami sadar tidak ada yang sempurna, tapi rasanya sedih saat orangtua nongkrong menunggui anak-anak sekolah dengan ngobrol ngalor ngidul tidak perlu. Atau anak-anak tidak bisa mengerjakan soal ulangan tapi temannya yang les pada guru bisa mengerjakannya karena teman tersebut les pada gurunya. Akhirnya terpaksa kami leskan juga supaya bisa. Tapi, sungguh itu bertentangan dengan hati nurani kami. Anak sulung kami, lahir 1992, juga sering dianggap pembangkang, dan sering dibandingkan dengan adiknya, kelahiran 1994, yang dianggap anak manis oleh guru.

Lalu saya membaca satu artikel di harian Kompas tentang keluarga-keluarga Indonesia yang melakukan homeschooling. Saya cerita kepada anak-anak saya tentang betapa menariknya artikel yang saya baca itu, dan alangkah serunya kalau kami bisa melakukannya. Saat itu si tengah di kelas 6 SD, di tahun 2005. Rupanya dia tertarik dengan cerita saya dan berkata ingin di rumah saja setamatnya SD. Saat itu saya belum siap, jadi saya masukkan ia ke SMP. Saya pun mencari tahu apa dan bagaimana homeschooling itu lewat internet. Saat itu belum era facebook. Sampai akhirnya saya berjumpa dengan seseorang yang dapat meyakinkan saya untuk melakukan homeschooling.

Di saat yang hampir bersamaan, anak tertua kami dinyatakan tidak naik kelas dari kelas 7 ke kelas 8. Ini satu kejutan yang tidak disangka karena di semester pertama tidak ada warning apa-apa dari gurunya, tiba-tiba menjelang pembagian rapor di semester genap, anak pertama kami dinyatakan tidak naik kelas. Ketika ditanya sebabnya, jawab wali kelasnya: “Anak tidak perlu pintar, Pak, yang penting nurut.” Itu lagi salah satu bentuk kekecewaan kami pada sekolah.

Di semester pertama di kelas 7, akhirnya anak ke dua kami berhenti dari sekolah. Dialah yang pertama kalinya menjalani homeschooling. Dia tidak betah di sekolah karena SMP-nya saat itu merupakan sekolah swasta milik salah satu perusahaan di bawah Kementerian BUMN, dan pihak sekolah sering tunduk pada murid-murid yang orangtuanya pejabat di perusahaan, dan karena kami bukan karyawan perusahaan itu, sepertinya kami dianaktirikan.

Anak pertama kami menyusul adiknya untuk bersekolah di rumah 2,5 tahun kemudian, saat ia berada di semester pertama di kelas 10. Alasannya: dia ingin mendalami musik, jadi tidak ingin mempelajari mata pelajaran yang tidak berhubungan dengan musik. Sementara anak bungsu kami, kelahiran 2003, praktis tidak pernah bersekolah.

Anak sulung kami lulusan Program Vokasi Periklanan dari Fakultas Komunikasi Universitas Indonesia. Sekarang bekerja, dan berhasrat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata 1. Anak ke dua, lulusan Jurusan Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Saat ini sedang berada di Inggris karena mendapat beasiswa dari LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari Kementerian Keuangan, mengambil Program Studi MA di bidang Education, Gender, and International Development di University College London.