Senin, Oktober 10, 2016

Ansos For Homeschoolers Semarang, Masalah Di Dunia Pendidikan Indonesia

Inventarisasilah apa saja masalah di dunia pendidikan Indonesia, tingkat nasional maupun daerah Anda masing-masing (propinsi/kota/kabupaten

1.         Terlalu generalisasinya pendidikan untuk Indonesia yang majemuk ini.
2.         Guru cuma punya sedikit parameter dalam menilai anak.
3.         Keberagaman tidak dihargai bahkan dimatikan.
4.         Anak-anak harus belajar banyak mata pelajaran.
5.         Masih berpijak pada buku materi, kewajiban berseragam sekolah dan bersepatu, di mana siswa harus membeli, atau menjadi malu jika tidak punya/memakai.
6.         Walau pun sudah banyak mata pelajaran yang dipelajari, tetap saja harus ikut les pada guru sekolahnya, atau ikut bimbingan belajar lagi.
7.         Dipaksakannya membaca dan menulis di tingkat TK.
8.         Tidak terampilnya petugas Kemendikbud di daerah, seperti penulisan nama yang sering salah, lambatnya mengeluarkan ijazah.
9.         Mental petugas (termasuk guru) masih mental minta dilayani, bukan melayani.

10.   Guru-guru yang tertambat di masa lalu dan sedikit mau berubah dan elajar, padahal guru-guru tersebut adalah kelahiran abad 20, mengajar anak-anak abad 21, dengan gaya yang belum berubah sejak abad 19.

Ansos For Homeschoolers Semarang, CV Saya

Curriculum Vitae / biodata pribadi, terutama menceritakan kerja-kerja yang pernah dilakukan di bidang pendidikan/homeschooling, dan alasan menjadi homeschooler

Nama                                      : Wimurti Kusman (Moi)
Tempat tanggal lahir               : Jakarta, 20 Desember 1962
Status                                     : Menikah, dengan tiga orang anak.
Alamat                                     : Pondok Cilegon Indah Blok D 103 no. 1 Cilegon, Banten.
Pekerjaan                                : Ibu rumah tangga, guru Bahasa Inggris.

Saya sebelumnya tidak pernah merencanakan untuk melakukan homeschooling bagi anak-anak kami. Saya adalah ibu yang boleh dibilang ‘posesif’ yang tidak rela pengasuhan anak dikerjakan oleh orang lain. Jadi sejak pagi hingga malam hari, anak-anak dipegang oleh saya dan suami, yang kebetulan berprinsip serupa. Saya memang tidak pernah ingin bekerja kantoran yang mengharuskan saya untuk berangkat pagi, pulang sore; jenis pekerjaan nine to five, Senin sampai Jumat. Saya bukan tipe ibu atau perempuan yang lebih suka kongkow-kongkow dengan teman, sementara anak-anak dengan pengasuh. Kalau pun itu saya lakukan, maka saya akan bawa serta anak-anak saya karena rasa ketidak-percayaan saya. Karena sifat pengasuhan saya yang demikian, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, maka anak-anak tumbuh dekat dengan saya dan ayah mereka. Kami membesarkan anak-anak berdua, sambil belajar, jatuh, dan bangun.

Saat menyekolahkan anak-anak, mulailah kami melihat pola pengasuhan yang dilakukan orang lain, juga pola pendidikan dan pengajaran yang dilakukan guru-guru anak-anak yang kami temui sejak masih TK. Mulailah kami berbenturan dengan ketidaksetujuan pada pengasuhan, terutama yang dicontohkan orangtua murid teman anak-anak, juga pada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru di sekolah. Kami sadar tidak ada yang sempurna, tapi rasanya sedih saat orangtua nongkrong menunggui anak-anak sekolah dengan ngobrol ngalor ngidul tidak perlu. Atau anak-anak tidak bisa mengerjakan soal ulangan tapi temannya yang les pada guru bisa mengerjakannya karena teman tersebut les pada gurunya. Akhirnya terpaksa kami leskan juga supaya bisa. Tapi, sungguh itu bertentangan dengan hati nurani kami. Anak sulung kami, lahir 1992, juga sering dianggap pembangkang, dan sering dibandingkan dengan adiknya, kelahiran 1994, yang dianggap anak manis oleh guru.

Lalu saya membaca satu artikel di harian Kompas tentang keluarga-keluarga Indonesia yang melakukan homeschooling. Saya cerita kepada anak-anak saya tentang betapa menariknya artikel yang saya baca itu, dan alangkah serunya kalau kami bisa melakukannya. Saat itu si tengah di kelas 6 SD, di tahun 2005. Rupanya dia tertarik dengan cerita saya dan berkata ingin di rumah saja setamatnya SD. Saat itu saya belum siap, jadi saya masukkan ia ke SMP. Saya pun mencari tahu apa dan bagaimana homeschooling itu lewat internet. Saat itu belum era facebook. Sampai akhirnya saya berjumpa dengan seseorang yang dapat meyakinkan saya untuk melakukan homeschooling.

Di saat yang hampir bersamaan, anak tertua kami dinyatakan tidak naik kelas dari kelas 7 ke kelas 8. Ini satu kejutan yang tidak disangka karena di semester pertama tidak ada warning apa-apa dari gurunya, tiba-tiba menjelang pembagian rapor di semester genap, anak pertama kami dinyatakan tidak naik kelas. Ketika ditanya sebabnya, jawab wali kelasnya: “Anak tidak perlu pintar, Pak, yang penting nurut.” Itu lagi salah satu bentuk kekecewaan kami pada sekolah.

Di semester pertama di kelas 7, akhirnya anak ke dua kami berhenti dari sekolah. Dialah yang pertama kalinya menjalani homeschooling. Dia tidak betah di sekolah karena SMP-nya saat itu merupakan sekolah swasta milik salah satu perusahaan di bawah Kementerian BUMN, dan pihak sekolah sering tunduk pada murid-murid yang orangtuanya pejabat di perusahaan, dan karena kami bukan karyawan perusahaan itu, sepertinya kami dianaktirikan.

Anak pertama kami menyusul adiknya untuk bersekolah di rumah 2,5 tahun kemudian, saat ia berada di semester pertama di kelas 10. Alasannya: dia ingin mendalami musik, jadi tidak ingin mempelajari mata pelajaran yang tidak berhubungan dengan musik. Sementara anak bungsu kami, kelahiran 2003, praktis tidak pernah bersekolah.

Anak sulung kami lulusan Program Vokasi Periklanan dari Fakultas Komunikasi Universitas Indonesia. Sekarang bekerja, dan berhasrat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata 1. Anak ke dua, lulusan Jurusan Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Saat ini sedang berada di Inggris karena mendapat beasiswa dari LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari Kementerian Keuangan, mengambil Program Studi MA di bidang Education, Gender, and International Development di University College London.




Ansos For Homeschoolers Semarang, Masalah Di Homeschooling Indonesia

Inventarisasilah apa saja masalah di dunia homeschooling Indonesia, tingkat nasional maupun daerah Anda masing-masing (propinsi/kota/kabupaten). 

1. Ketidak-pastian peraturan karena terus berubah.

2.  Dianggap tidak taat pada wajib belajar pemerintah karena tidak bersekolah.
3.  Tidak meratanya keberadaan dan kecepatan internet di masing-masing daerah.
4.   Tidak mengertinya petugas bagaimana harus memperlakukan anak=anak homeschooling.
5.    Tidak jelasnya apa hak dan kewajiban anak serta orangtua homeschooling.

6.    Hanya ujian paket A, B, C yang diadakan dan diakui pemerintah.