Sabtu, Mei 28, 2016

Langkah Kecil Mewujudkan Mimpi Sekolah Di Jerman; Kunjungan ke DAAD Jakarta

Di Deutsche Schule
Bumi Serpong Damai
Tangerang Selatan
Keinginan Fattah sekolah di Jerman bermula dari keinginan untuk merasakan bagaimana berada di Autobahn, jalan raya bebas hambatan canggih di Jerman yang tidak punya batas kecepatan maksimum, dan ikut berkendara di sana mengendarai apa yang disebut German Steel, merk-merk mobil Jerman yang memang terkenal andal dan cepat. Fattah ingin mempelajari mesin mobil, lalu memproduksi mobil ramah lingkungan pertama yang asli Indonesia.

Pencarian kami menuju ke kuliah di Jerman belum terlalu intensif karena sepertinya jalan masih panjang; maksudnya, kami masih punya waktu untuk enjoy the moment karena Fattah masih 12 tahun menuju 13 tahun; sampai suatu kali, ada selentingan kabar dari keluarga homeschooling yang juga ingin menyekolahkan anak-anak ke Jerman, bahwa negara Jerman hanya menerima ijazah UAN, dan tidak menerima ijazah lain. What?!

Brosur Engineering
dari DAAD Jakarta
Terus terang, kami tidak berencana mengambil kejar paket A, B, C untuk Fattah. Bukan apa-apa, tapi dua kali pengalaman ikut mencari, mendaftar, lalu kemudian mendampingi ujian paket B dan C kakak-kakak Fattah yang pernah aku tulis di sini, entah bagaimana membuat aku dan suami patah semangat untuk melakukannya kembali dari nol. Itu satu alasan. Alasan lainnya, buat kami peraturan-peraturan yang ada sungguh tidak mudah bagi kami untuk mengerti, pun tidak mudah untuk menjabarkannya di kehidupan nyata. Ada beberapa orangtua anak homeschooling seperti kami ini yang fasih dan tahu banyak tentang peraturan sehingga tahu apa hak-hak dan kewajiban siswa; tapi sayangnya kami bukan seperti itu. Kami bukan orangtua yang rajin mencari tahu, mempelajari peraturan-peraturan yang ada. Kami sadar bahwa hal itu tidak baik dan jangan dijadikan contoh. 

Beberapa brosur & CD
kami ambil dari DAAD Jakarta
Alasan terakhir, berat rasanya bahwa Fattah jadi harus belajar yang ia tidak minat. Bukan berarti pelajaran di UAN tidak perlu, tapi ada beberapa pelajaran yang bisa dipelajari sendiri tanpa perlu untuk diujikan dalan sebuah ujian resmi. Dari pengalaman kakak-kakak Fattah ikut ujian paket B dan C, aku mendapati bahwa cukup mudah dan singkat bagi mereka untuk belajar persiapan UN, dan aku yakin ini berlaku untuk siapa pun anak yang ingin ikut UN. Kami cukup beruntung saat anak-anak yang besar ingin mengikuti UN, kami berjumpa dengan lembaga yang mau menerima mereka langsung ikut ujian saja, tanpa perlu harus belajar seminggu sekian kali atau sekali. Itu pengalaman kami, dan bisa saja hal ini berbeda dengan pengalaman orangtua lain.

Alamat DAAD Jakarta
dan hari - jam konsultasi mereka.
GRATIS!
Pernah berbincang bertiga, aku, suami, dan Fattah; kami putuskan untuk mengambil ujian Cambridge di saat Fattah di kelas 12 saja sebagai pengganti ujian Kejar Paket A, B, dan C. Jadi sekali ujian, bukan tiga kali ujian. Tapi karena ada kabar bahwa Jerman tidak menerima ijazah lain selain UN, dan Fattah sudah berusia 12 tahun di mana dia seharusnya sudah bisa ambil ujian paket A untuk SD, maka kami bergegas cari tahu, sebelum terlambat. Pertama aku buka situs DAAD Indonesia. DAAD adalah Deutscher Akademischer Austauschdients, atau German Academic Exchange Service, yaitu organisasi bersama dari institusi pendidikan tinggi dan asosiasi mahasiswa Jerman. Lalu kucari nomor teleponnya, dan meneleponlah aku. Aku ingin menanyakan adalah apakah benar hanya ijazah UN saja yang diterima di universitas di Jerman? Bagaimana dengan ujian Cambridge? Telepon disambut dengan ramah oleh penerima di ujung sana. Pertanyaanku dijawab singkat, bisa pakai ijazah Cambridge A Level. Fiuh, lega. Penerima telepon lalu meminta alamat emailku untuk dikirimi brosur. Ujarnya, semua informasi sudah tersedia di sana, jadi aku tidak perlu datang dari Cilegon ke DAAD, Jakarta. Senangnya aku.

Berikut email DAAD padaku:

Selamat pagi,
terima kasih telah menghubungi kantor regional DAAD Jakarta dan ketertarikan anak Anda untuk melanjutkan studi S1 di Jerman.
1.            Lulusan SMA (dan sederajat) dari Indonesia dengan kelulusan UN (Ujian Nasional) belum setara dengan lulusan SMA di Jerman atau Abitur. Untuk menyetarakannya lulusan SMA atau calon mahasiswa harus lulus ujian kualifikasi masuk perguruan tinggi di Jerman atau dalam bahasa Jerman ‘Feststellungsprüfung’. Sebelum mengikuti ujian ini, calon mahasiswa belajar di Studienkolleg rata-rata selama dua semester. Informasi selengkapnya silahkan lihat pada lampiran ‘Tahapan Studi ke Jerman bagi Lulusan SMA dan sederajat.PdF’.
2.            Tidak semua negara bagian di Jerman memiliki Studienkolleg. Oleh karenanya, suatu perguruan tinggi atau beberapa perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pra universitas atau kelas persiapan masuk perguruan tinggi. Informasi selengkapnya silahkan kunjungi website masing-masing perguruan tinggi yang bersangkutan.
3.            Lulusan SMA dengan kelulusan ijazah asing, misal A-Level, IB atau yang lainnya, kami sarankan untuk menghubungi langsung perguruan tinggi pilihan di Jerman.
4.            Daftar jurusan dan perguruan tinggi di Jerman serta gambaran kota-kota di Jerman silahkan kunjungi www.study-in.de.
5.            TUITION FEE vs. SEMESTER CONTRIBUTION: Sebagai informasi, hampir semua perguruan tinggi negeri Jerman tidak memberlakukan uang perkuliahan atau tuition fee. Walaupun begitu setiap perguruan tinggi masih menetapkan Kontribusi Semesteran atau Semester Contribution (bukan “fee”!!) untuk setiap semesternya (sekitar 100 – 300an Euro). Oleh karenanya tidak ada beasiswa untuk jenjang S1. Anda hanya perlu mempersiapkan biaya hidup sebesar 7.908 Euro untuk satu tahun dan biaya asuransi kesehatan untuk mahasiswa yang besarannya sekitar 70 Euro setiap bulan. Informasi pembuatan rekening untuk biaya hidup silahkan kunjungi http://www.jakarta.diplo.de/contentblob/3926216/Daten/3971144/H5__Sperrkonto.pdf.
6.            VISA: Rekening bank ini merupakan salah satu syarat untuk memohon visa, persyaratan lebih lengkap silahkan kunjungihttp://www.jakarta.diplo.de/contentblob/4230636/Daten/4412080/D3_id__Studium.pdfInformasi penerjemah tersumpah, silahkan kunjungi http://www.jakarta.diplo.de/contentblob/3980974/Daten/4750398/download_uebersetzer_neu.pdf
7.            Terlampir kami kirimkan panduan praktis studi ke Jerman.


Demikian informasi yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat. Apabila memiliki pertanyaan lainnya, anda dapat melakukan konsultasi pada jam kantor yang tertera di bawah ini.

Salam - Mit freundlichen Grüßen - Kind regards,
Ribka Gloria
Program Officer: Alumnae Programs, General Information, DAAD Special Programs

DAAD Jakarta Consulting hours: Thursdays, 13:30 - 16:00

DAAD_Standard Logo_Office-Web_jpeg
DAAD Jakarta Office
Summitmas Building II, 14th Floor
Jl. Jend. Sudirman Kav.61-62
Jakarta 12190
Phone: (0062-21) 520 0870, 5252807
Fax: (0062-21) 5252822
Email: info
@daadjkt.org
Website: 
http://www.daadjkt.org
Facebook: DAAD Indonesia
Twitter: @DAAD_Indonesia


Kartu pos lucu-lucu di DAAD
Karena penasaaran dan Ican sudah mengambil cuti, dan seperti kebetulan bahwa Kamis adalah hariku mengajar sampai jam 13, dan sesudahnya dapat dimanfaatkan untuk ke DAAD berkonsultasi, maka pergilah kami. Sampai di sana, kami bertemu petugas yang menanyakan maksud kedatangan kami. Ican mengisi data dan saat mengisi data sekolah peminat, sepertinya yang hadir di sana minimal akan tamat SMA, sementara hanya Fattah yang masih belum SMA. Kami utarakan niat untuk menanyakan jenjang S1, dan kami diminta menunggu. Sambil menunggu di sana tersedia brosur-brosur yang bebas diambil. Ada beberapa kartu pos yang lucu-lucu. Ada satu brosur dilengkapi CD, dan ada 1 CD lain yang terpisah dari brosur, jadi hanya CD saja. Ada beberapa orang yang bertanya tentang program S2 dan S3 di dekat kami duduk. Di dalam satu ruangan yang terbuka jadi kami bisa melihat sebagian, sudah ada satu meja besar diisi paling banyak pengunjung, sekitar 8 orang. Kami menunggu cukup lama sampai akhirnya datang juga konsultannya. Rupanya beda program beda pula konsultannya. Ternyata ruang di dalam itu sebetulnya sedang menerangkan program S1, pantas saja pesertanya paling banyak, dan kata konsultannya kami sebetulnya dapat saja ikut. Kalau saja tahu. Sayang kami tidak dipersilakan petugas, jadi tentu kami tidak enak.

Berbincang dengan konsultan S1, ini pertanyaan-pertanyaanku beserta jawaban konsultan S1 yang masih muda, orang Indonesia:

  • Apakah bisa pakai ijazah Cambridge? Bisa. Pakai ijazah A level dan jangan lupa untuk menghubungi universitas yang dituju terlebih dahulu. Menurut konsultan itu banyak juga orang Indonesia yang menggunakan ijazah Cambridge untuk kuliah di Jerman. 
  • Apakah ijazah Cambridge juga harus diterjemahkan? Tidak perlu sebab ijazah Cambridge sudah dalam bahasa internasional.
  • Apakah bisa menggunakan ijazah paket C? Menurut konsultan, ijazah paket C itu perlakuannya sama dengan ijazah UAN, juga ijazah siswa pesantren yang mungkin tidak mengikuti UAN tapi melaksanakan ujian sekolah.
  • Apakah mengikuti Studienkollegs ada tes masuk? Ada. Bisa dilaksanakan di Indonesia dan bisa di Jerman. Ada ujian masuk Studienkollegs dan ada ujian akhir Studienkollegs.


Brosur penting berisi tautan banyak pertanyaan
bagi yang ingin studi di Jerman
Lalu konsultan merujuk pada brosur di samping ini. Kalau kita ingin memilih program studi dan perguruan tinggi di Jerman, maka ini tautan pentingnya:

Informasi tentang belajar dan ujian bahasa Jerman:


Informasi tentang Studient kolleg:


Informasi persyaratan visa, bukti keuangan, daftar penerjemah:


Informasi beasiswa di Jerman:


Mari kita mulai susun strategi. Kami tahu bahwa pelajar tamatan SMA atau sederajat dari Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Jerman harus ikut program kesetaraan di Jerman yang disebut Studienkollegs selama satu tahun, dan arus punya kualifikasi bahasa Jerman minimal tingkat B1. Jadi sekarang perlu ijazah Cambridge A level dulu. Caranya? Dua kakak pernah mencoba mengambil ujian Cambridge IGCSE di salah satu tempat yang resmi ditunjuk lembaga CIE, saat itu di Universitas Al Azhar, Jakarta, atau UAI. Tapi itu tahun 2009 sebelum mereka masuk kuliah. Saat ini kalau tidak salah UAI tidak lagi sebagai salah satu wakil ujian Cambridge di Indonesia. Di mana? Nah itu yang masih harus kami cari tahu. Kalau mentok, dengan berat hati kami terpaksa ikut ujian di Singapura, atau Malaysia. 

Kami bukan dari kalangan orang berada. Di atas kertas, Road to Germany, jalan untuk kuliah di Jerman walau Fattah dapat yang gratis biaya semesternya pun, masih di luar jangkauan kami ketika kami juga harus menyediakan biaya bulanan Fattah nanti. Tapi kami percaya bahwa a journey of a thousand miles begins with a single step. Langkah kami mengantar Fattah ke Jerman dimulai dari perjalanan kecil kami mencari tahu tentang kuliah di Jerman ke kantor DAAD. Dengan semangat "mestakung, semesta mendukung", kami yakin, seperti Paulo Coelho katakan: When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Minggu, Mei 22, 2016

Evaluasi Homeschooling, Sesi Berbagiku di Bincang Seru Homeschooling 2016

Bincang Seru Homeschooling 2016
Hari Sabtu, 21 Mei 2016 aku ikut berpartisipasi dalam Bincang Seru Homeschooling 2016 yang diselenggarakan di Gedung A Graha Utama lantai 3, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di jalan Sudirman, Jakarta, dari pagi jam 9 hingga usai jam 16 WIB. Bersama dua ibu lainnya yang juga teman-temanku dalam berkegiatan di Klub Oase Jakarta yaitu Irma Nugraha dan Shanty Syahril, aku kebagian sebagai pembicara sesi 4 tentang Evaluasi Homeschooling.

Pembicara di Bincang Seru Homeschooling 2016
Acara Bincang Seru Homeschooling 2016 ini ada 4 sesi berbagi oleh praktisi homeschooling yang merupakan orangtua anak homeschooling. Sesi 1: Menimbang Homeschooling, Sesi 2: Memulai Homeschooling, Sesi 3: Keseharian Homeschooling, dan bagianku dan 2 teman saya itu: Evaluasi Homeschooling. Masing-masing sesi diisi oleh 3 orang praktisi, jadi total ada 12 praktisi yang ikut berbagi hari itu. Kali ini aku ingin menulis tentang bagian presentasiku saja, karena merasa tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk presentasi saat itu, karena kesibukan mendadak yang kualami seminggu menjelang hari-H.

Slide saat presentasi
Sebagian besar orang beranggapan bahwa evaluasi itu selalu berhubungan dengan ulangan harian, ulangan semester, ujian sekolah, dan diakhiri dengan ujian nasional. Itulah yang ada di pikiranku juga. Di perjalanan, aku menyadari bahwa hal-hal kecil sederhana itu sangat bisa untuk dijadikan evaluasi dalam mendidik anak. Parenting dan homeschooling itu berjalan beriringan; sejalan.

Fattah & BMW impiannya
Walau pun dua anak terbesar kami sudah "selesai" dari yang disebut homeschooling, kami masih punya Fattah si bungsu yang masih tinggal bersama kami di Cilegon, sementara ke dua kakaknya sudah bekerja di Jakarta. Punya tiga anak yang berbeda, maka evaluasi yang dihadapi anak pun juga beragam, sesuai fitrah anak yang unik satu dan lainnya. Karena keluarga kami dalam menjalani homeschooling itu menjunjung tinggi kombinasi dari apresiasi terhadap alam semesta dan Sang Pencipta, olahraga, sosial, seni, budaya, sejarah, lingkungan, maka evaluasinya adalah praktek, pengetahuan, kesimpulan, serta hikmah yang dapat ditarik dalam, dan setelah menjalani kegiatan disebut di atas; dikombinasikan dengan nilai-nilai yang ingin kami capai, antara lain seperti kejujuran, ketekunan, kerja keras, konsistensi, menolong orang lain, keindahan, keluhuran budi, penghormatan pada perbedaan, kualitas, nama baik, kesetiaan, dedikasi, ramah lingkungan,efisiensi, kebugaran, kebersihan, kesehatan, tradisi, rasa ingin tahu, selalu belajar, keterbukaan, siap pada perubahan.

Di Lawang Sewu, Semarang
Semua kegiatan yang kami lihat, lalu timbang-timbang, putuskan, dan jalani, akan berkisar di hal-hal yang kami yakini sebagai nilai-nilai keluarga yang kami harap selalu dipegang teguh, dijunjung tinggi. Ketika kami ingin menonton satu pertunjukkan atau film, jalan ke tempat baru, ke museum, ke alam, atau sesederhana memilih pakaian, makanan, atau barang misalnya, banyak faktor nilai yang akan dipertimbangkan yang muaranya selalu nilai-nilai. Begitu pun saat anak-anak yang besar memilih jurusan kuliah, sampai pilihan tempat bekerja.

Fattah & triathlon
Dari mana itu semua? Rangkaian peristiwa dan ngobrol panjang yang dilakukan tahun demi tahun, demi tahun, dan demi tahun jawabannya. Dari intensitas yang dilakukan hari demi hari, lalu dilakukan dengan konsisten, maka tercipta bonding orangtua dan anak yang akhirnya membuat kami tahu, mengerti apa yang diinginkan, dan apa yang diharapkan satu sama lain. Evaluasinya? Saat ada halangan dan rintangan yang kami hadapi. Contoh sederhananya saat Fattah merasa bosan belajar piano, merasa letih untuk pergi latihan renang, atau saat kami harus berangkat ekstra pagi berkegiatan ke Klub Oase di hari Rabu. Tidak mudah, dan waktu yang akan menjawabnya apakah di sana ada komitmen, lagi-lagi kosistensi, kegigihan untuk tidak menyerah untuk meraih apa yang menjadi hal ideal yang kami perjuangkan.

Fattah & Pramuka
Lalu menyinggung ulangan atau ujian sekolah, atau bentuk tes lainnya yang akan dihadapi anak seperti tes di tempat kursus, tes pengujian internasional, dan tes apa pun itu baik tertulis mau pun praktek, sejatinya semuanya dilakukan dengan tidak lupa pada prinsip-prinsip nilai keluarga, karena ujian-ujian ini hanya salah satu bentuk evaluasi. Ketika menjalaninya menjadi satu keharusan, maka apa pun yang terjadi saat mengerjakannya, kalau ternyata mengalami hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah ditanamkan keluarga, lulus tidaknya bukan pada hasil akhir ujian saja, karena itu hanya salah satu bentuk evaluasi. Buat apa lulus kalau menyontek atau dapat bocoran jawaban. Buat apa cepat masuk kuliah tapi tidak semangat kuliah. Ambil yang sesuai kata hati, dari nurani yang sudah diasah bertahun-tahun untuk selalu jujur pada diri sendiri.