Saturday, March 11, 2017

Belajar Total Immersion Swimming, Proses Unlearn dan Relearn

Logo Total Immersion Swimming 
Sudah hampir dua bulan ini aku mencoba untuk disiplin berenang. Sebagian besar renang dilakukan di pagi hari, mulai jam 6.00 di hari-hari Fattah tidak ada jadwal renang subuh di Perkumpulan Renang Krakatau Atlantik, dan sekitar jam 7.00 sepulangku menjemput Fattah renang subuh. Sebetulnya aku ingin renang lebih pagi lagi, tapi di kolam renang tempatku berlangganan, Cilegon Green Waterpark yang jaraknya hanya 1,8 km berjalan kaki, kolam baru buka jam 6.00 pagi. Kolam renang tempat Fattah berlatih renang, Krakatau Water World Cilegon yang jaraknya sekitar 8,5 km, buka lebih pagi lagi. Tapi renang di sana butuh pencapaian lebih jauh, juga lebih mahal langganan per bulan/tahunnya. Tujuanku renang adalah untuk melatih lutut kiriku yang terkadang bengkak yang akan aku ceritakan di posting lain.

Sejak belum menikah dulu, aku dan Ican, bekas pacar yang sekarang jadi suamiku ini, saat berenang selalu mencoba untuk renang jarak jauh. Biasanya kami selalu ingin mencapai target 1000 meter. Saat mulai berenang lagi ini, kami juga ingin mengejar target itu. Kesempatan renang berdua kami adanya hanya di Minggu pagi sebelum kolam ramai oleh pengunjung yang mau berenang di hari Minggu. Sementara di hari kerja Ican berusaha untuk berenang sepulang kerja. Ican pulang kerja jam 16, lalu mampir rumah untuk siap-siap renang jam 17 sampai kolam tutup jam 18 kurang.

Sekitar setahun yang lalu aku melihat Instagram milik @rezagunawan melakukan renang gaya bebas yang terlihat mudah sekali. Gaya bebas adalah gaya renang yang amat jarang aku lakukan. Aku merasa gaya bebas membuatku kesulitan bernafas karena ritmenya yang lebih cepat dari gaya dada yang biasa aku dan Ican lakukan. Mengambil dan membuang nafas saat berenang gaya dada buatku lebih mudah. Tapi melihat @rezagunawan dan istrinya @deelestari berenang gaya bebas terlihat mudah. Baru saat aku melihat posting Reza berpose bersama Dee dan "guru" Total Immersion Swimming mereka -Shinji Takeuchi, aku baru tahu bahwa aku bisa juga belajar seperti Reza; dari video Shinji di Youtube.

Sejak melihat posting Reza dan info yang ada di dalamnya, aku langsung mencari YouTube tutorial Total Immersion Swimming atau TI Swimming dari Shinji Takeuchi. Wah, keren ini Shinji dijuluki The Most Graceful Freestyle Swimmer; perenang gaya bebas paling anggun karena begitu mulus melaju. Betul-betul takjub aku saat menyaksikan Shinji berenang dengan mulusnya. Kog bisa! Duh, iri aku!



Lalu pencarian pun berlanjut. 
Aku pun juga mengajak Ican menyaksikan video yang sama. Gaya yang dipilih Ican untuk renang itu sama dengan gaya yang selama ini aku pilih, dan dipilih dengan alasan yang sama juga. Ican juga penasaran jadinya. Lalu aku jumpa konsep TI Swimming ini. Tujuan dari TI Swimming ini adalah berenang dengan efisiensi sedekat mungkin dengan cara ikan berenang. Yang seru adalah saat membaca di teks: "Our goal is to teach anyone how to swim gracefully and with ease like a fish regardless of their ability, physical strength, or age." Jadi siapa pun dengan kemampuan, kekuatan fisik, dan umur berapa pun, dapat mempelajari TI Swimming. Wah, langsung semangat. Tingkat efisiensi berenang manusia itu hanya sekitar 5-8%, sementara ikan 60-70%. Ya iyalah, ikan memang hidup di air. Dalam berlari, efisiensi manusia itu sekitar 25%. Jadi dalam berenang, manusia sangat tidak efisien, karenanya meningkatkan efisiensi menjadi kunci di sini. Shinji menjelaskan di videonya mengapa manusia tidak efisien dalam renang.

Di video juga diperlihatkan perbedaan berenang gaya manusia dan gaya ikan. Perbedaan yang paling menonjol di gaya bebas konvensional dan TI adalah di pergerakan kaki. Saat aku belajar berenang, aku diminta untuk menggerakkan kaki kiri dan kanan dalam posisi lurus dengan cepat. Sementara dalam TI, saat tangan kanan mengayuh, kaki kiri digerakkan sekali, lalu saat tangan kiri mengayuh, kaki kanan bergerak sekali. Tidak perlu banyak gerakan kaki yang menurut Shinji akan membuat kita lelah. Pantas saja. TI lebih terlihat santai dan seperti tanpa tenaga, tapi badan bergerak laju. Gerakan tangan juga diperbaiki sudutnya saat masuk ke air, bukan di permukaan seperti gaya bebas konvensional yang selama ini aku tahu. Jadi aku harus unlearn dan relearn di sini.

Ada tiga pendekatan untuk berenang secara efisien:

  1. Mengurangi seretan air dari arah depan. Kita harus selalu meletakkan badan kita dalam posisi horizontal untuk mengurangi beban badan bagian depan kita.
  2. Memanfaatkan grafitasi dengan dua cara: a. menggeser pusat grafitasi dari belakang ke depan dengan cara mencelupkan tangan dalam air dari posisi yang lebih tinggi lalu memanjangkannya ke arah depan; b. menggeser pusat grafitasi dari sisi ke sisi yang lain melalui gerakan tangan kanan kiri yang lebih dipanjangkan ke arah depan badan kita.
  3. Meningkatkan tenaga pendorong. Kurangi gerakan kaki yang cepat karena gerakan ini hanya digunakan agar kaki terangkat di permukaan saja. Lakukan dengan santai. Gerakan tangan juga bukan seperti mengaduk/mengocok air tapi seperti yang diminta pada poin 2 di atas. Fokuskan pada posisi badan dan pergerakannya untuk mendorong badan ke depan.
Videonya bisa dilihat di sini:




Lalu inilah tiga kunci kecakapan utama dalam renang TI. 

  1. Keseimbangan. Ada 2 tahap: a. Keseimbangan Linear, dengan membuat badan kita seimbang secara horizontal. b. Keseimbangan Lateral, dalam gaya bebas dan gaya punggung berganti keseimbangan dari sisi satu ke sisi lain untuk berpindah maju. 
  2. Streamline. Ada 2 tahap: a. Pasif, saat badan seimbang saat mengambil nafas atau jeda sebentar. b. Aktif, saat badan digerakkan maju setelah posisi pasif.
  3. Tenaga pendorong. Ada 3 tahap: a. Pengalihan berat. Fokuskan pengalihan pusat grafitasi dari belakang ke depan atau dari sisi ke sisi seperti diterangkan di video sebelumnya. b. Koordinasi. Kita tingkatkan daya dorong dengan mengkoordinasikan pergerakan tangan, kaki, dan torso. Gerakan kaki membuat rotasi pinggul dan pergerakan torso yang membuat gerakan tangan mencelup dengan cepat. Gerakan cepat ini yang membuat meningkatnya gerakan dorong. c. Gerakan tangan bawah air. Fokuskan pada gerakan tangan di bawah air, bukan gerakan menarik. Coba untuk memegang air sebanyak mungkin lalu luncurkan badan ke depan melampaui tangan kita.
Saksikan video di bawah ini bagaimana praktik dari tiga kunci kecakapan utama di atas. Siap-siap ternganga pada anggunnya renang TI ini. 


Setelah tahu teorinya, mari kita praktikkan melalui video di bawah penjelasan ini. Ada 3 tipe latihan:
  1. Latihan pengulangan. Ditujukan untuk: a. Mencapai kecakapan tertentu yang diperlukan. b. Pengulangan gerakan yang sederhana. c. Menguasai setiap tahap. d. Mencegah kebiasaan renang lama. Latihan pertama disebut "Superman Glide," atau horizontal seperti Superman saat terbang. Ini digunakan untuk mengasah keseimbangan badan di air. Latihan berikut disebut "Skating," atau meluncur yang gunanya untuk melatih meluruskan posisi tubuh. Di sini hentakan kaki seperti saat aku belajar gaya bebas dulu, kanan kiri dengan cepat berganti. Latihan ketiga disebut "Spear Switch," atau pergantian tombak, yang digunakan untuk belajar menentukan waktu kapan berganti dari sisi ke sisi lain badan kita. Latihan terakhir disebut "Swing Switch," atau ayunan berganti, yang gunanya untuk belajar beristirahat di antara gerakan secara efisien.
  2. Latihan Titik Pumpun (Focal Point). a. Perhatikan bagian-bagian badan kita dan reaksi yang ada terhadap air kolam. b. Evaluasi hasilnya. c. Hubungkan antara latihan dan keseluruhan gerakan, terutama saat kita belajar TI sendiri, seperti aku, tanpa pelatih.
  3. Latihan keseluruhan gerakan. Leburkan kecakapan pada seluruh badan kita dengan latihan-latihan seperti: fokus pada titik pumpun, mulai menghitung gerakan, dan pengaturan tempo jika ingin berenang lebih cepat.
Secara umum Shinji berenang 12 gerakan di kolam panjang 25 meter. Itu yang aku baca di Instagram @rezagunawan. 


Aku baru mempraktikkan TI Swimming seminggu ini. Masih jauh dari sempurna. Jauh sekali. Aku semangat menularkannya pada yang lain, sebab seperti janji Shinji di atas, siapa pun dapat melakukannya apa pun tingkat kemahiran, kekuatan tubuh, dan usia. Dee Lestari juga tadinya tidak bisa dan sekarang bisa. Aku pun antusias dengan rasa ingin melakukan renang gaya bebas yang lebih mudah dan lebih anggun tanpa banyak kecipak air tanda tidak efisien, dan lebih cepat tentunya. Ganbate!

Logo TI Swimming di ambil dari sini

Thursday, January 12, 2017

Fattah Murid Intermediate 2 Baru di LIA Cilegon

Dengan buku Smart Choice

Tes Penempatan LIA

Jumat, 30 Desember 2016 lalu Fattah melaksanakan tes penempatan (placement test) untuk kelas EA (English for Adults) di LB-LIA Cilegon. Setelah lulus dari kelas ET (English for Teens) level 12 di bulan September sebelumnya, Fattah seharusnya dapat langsung melakukan tes penempatan untuk kelas EA, tapi ia memintaku untuk menunda kursus (postpone) selama 1 term yang lamanya 3 bulan, dari bulan Oktober sampai Desember 2016. Setelah menunda selama 1 term, Fattah siap untuk ikut EA di term berikutnya yang mulai Januari 2017.

It is in the family tradition

Abang dan kakak Fattah juga tamatan LIA. Seperti Fattah, mereka juga mulai kursus di LIA sejak kelas EC (English for Children) yang terdiri dari 12 level, lalu dilanjutkan ET (English for Teens), lalu tamat EA (English for Adults) yang juga 12 level. Setiap kelas selalu ada tes penempatan. Abang dan kakak tidak mulai dari level paling bawah, jadi mereka tidak sepenuhnya menjalani 12 level di setiap kelas tergantung dari hasil tes penempatan. Waktu baru pertama kali masuk LIA, Fattah memulainya di kelas EC 3A. Kelas EC disesuaikan dengan kelas anak di sekolah, atau dalam hal Fattah yang tidak sekolah, dilihat dari umurnya kala itu. Lulus dari EC 6B, Fattah ikut tes penempatan untuk kelas ET dan masuk di level ET 4 dan menamatkan kelas tersebut sampai ET 12.
Formulir Ujian Masuk Kursus Bahasa Inggris LIA

Mengapa LIA?

Mengapa kami memilih LIA? Di tahun 80an aku menamatkan LIA di LIA Pramuka dan merasakan manfaatnya. Lalu di setelah menikah dan tinggal di Cilegon, aku adalah salah satu dari guru LIA Cilegon yang pertama. Karena dirasa banyak gunanya, anak-anak juga aku sarankan untuk ikut kursus di sana. Mengapa bukan yang lain? Di Cilegon beberapa tahun setelah LIA berdiri juga ada EF. Mengapa bukan EF? Alasan utamanya adalah biaya yang lebih mahal. Sebagai guru LIA, aku juga mendapat diskon kalau anak-anakku ikut kursus di LIA sebesar 25%. Lumayan. Alasan lain, aku tahu bahwa pelatihan guru LIA itu cukup berat dan –kalau tidak salah- LIA adalah satu-satunya kursus Bahasa Inggris yang memiliki divisi Diklat, paling tidak untuk saat itu. Menjadi calon guru LIA tidak mudah. Lulusnya pun juga tidak mudah. Itulah alasan-alasanku. 

Kurang afdol kalau tidak melakukan 'dab.'

Apa manfaat kursus di LIA?

Pernah aku ditanya, kalau tidak salah oleh salah satu rekan guru, apa manfaat kursus di LIA  bagi anak-anakku. Anak-anak yang besar menjawab bahwa LIA mengajari mereka bagaimana menulis dengan baik. Sejak awal LIA mengajari siswa bukan hanya untuk berbicara, bercakap-cakap dalam conversation, melakukan persentasi, juga menulis mulai dari kalimat sederhana, lalu paragraf, lalu esay. Di ujian akhir di setiap level, siswa diminta untuk menulis di bagian akhir ujian. Tingkat kesulitan tentunya meningkat. Di level yang lebih tinggi, siswa diajari lagi menulis berbagai macam jenis esay seperti expository, descriptive, narrative, sampai persuasive/argumentative. 

Uang kursus selama 3 bulan dengan diskon 5% karena membayar tunai.

Belajar menulis dengan terstruktur

Anak-anak terbesar mengakui bahwa di saat kuliah mereka jadi terbiasa untuk menentukan bagaimana menulis pembukaan sebuah esay, menulis isi, lalu menutupnya. Yang menantang adalah saat menulis persuasive/argumentative essay di mana siswa diharuskan untuk menuliskan opini mereka dan alasannya. Di level akhir EA yaitu Higher Intermediate 4, pada saat ujian akhir, siswa diharuskan untuk menulis sebanyak 350-400 kata. Selain itu, sebagai syarat kelulusan, siswa diwajibkan untuk menulis persuasive/argumentative essay sebanyak 600 kata, lalu mempresentasikannya di hadapan penguji. Nah, kemampuan menulis persuasive/argumentative essay inilah yang dirasa anak-anak terbesar sangat berguna saat kuliah. Mereka jadi mudah menuliskan pendapat apa yang ada di kepala mereka, dan mempertahankan argumen mereka dalam tulisan.

Diterima di Intermediate 2.

Pengumuman itu

Hari Selasa sore, 3 Januari 2017 adalah hari pengumuman hasil tes penempatan. Aku bercerita pada Fattah, bahwa saat masuk EA, seingatku si abang diterima di level Intermediate 2 dan si kakak di Intermediate 3. Aku menelepon LIA untuk menanyakan apakah hasil Fattah sudah keluar. Semua tes penempatan di LIA yang menggunakan pensil 2B karena dikerjakan di kertas khusus komputer itu dibawa ke LIA pusat untuk diperiksa oleh komputer di sana. Terdengar jawaban di ujung sana bahwa hasilnya sudah keluar. Dan Fattah, sama seperti abangnya, mendapat level Intermediate 2. Dan petualangan Fattah di kelas EA di Lembaga Bahasa – LIA pun dimulai.


Sunday, January 01, 2017

Mencoba Memasak Nasi Tim Ayam di Rice Cooker

Atas: Kaldu & Nasi berbumbu, ada cetakan nasi dari batok kelapa
Bawah: Isian ayam & piring berisi campuran semuanya.
Setelah sekian lama ingin mencoba tapi ragu karena tidak punya mangkok untuk mengukus satu per satu porsi nasi tim, hari ini akhirnya aku mencoba untuk memasak nasi tim ayam di rice cooker. Selain alasan tidak adanya mangkok, alasan lainnya adalah, tidak adanya kukusan besar untuk mengukus seandainya pun aku memutuskan untuk membeli mangkok aluminium. Alasan ke tiga, dan ini yang lebih mendominasi adalah: agar praktis saja (baca: aku malas).

Setelah mencari, akhirnya resep yang aku pakai untuk membuat nasi tim ayam jatuh pada tautan ini, dengan tentunya dimodifikasi sana sini dengan situasi dapur yang ada. Sayangnya, sudah semingguan ini tidak ada jamur kancing di Cilegon. Sudah memesan pada 2 tukang sayur langganan dan lihat di pasar Pagebangan dekat rumah, juga tidak ada. Jamur jenis ini memang cukup jarang di kotaku.

Ini langkah-langkah membuat nasi tim ayam rice cooker dari resep di atas:

I. Merebus ayam untuk membuat nasi dan kaldu:
  • Tulang dari satu ekor ayam yang sudah diambil dagingnya, masukkan dalam panci tekan.
  • Air sesuai selera, tadi aku masukkan 4 liter.
  • Garam secukupnya
  • Rebus selama 25 menit.
II. Nasi untuk nasi tim:
  • Aku pakai beras merah dicampur putih 50:50 (karena di rumah adanya itu). Silakan diganti dengan beras putih saja, dicuci bersih. 
  • 5 siung bawang putih dicincang.
  • 2 ruas jari jahe dicincang.
  • Minyak secukupnya untuk menumis dua bahan di atas. Aku memakai minyak zaitun. Silakan pakai minyak apa saja.
  • Garam sesuai selera.
  • Merica sesuai selera.
  • Masukkan tumisan di atas ke dalam beras yang sudah dicuci.
  • Tambahkan kaldu dari bagian I sesuai takaran rice cooker. Menurutku ditambahkan airnya lebih baik agar nasi jadi sedikit lembek.
  • Masak nasi di rice cooker.
III. Isian ayam dan jamur (jika ada) untuk nasi tim:
  • Filet ayam yang sudah dipotong dadu.
  • Jamur kancing dipotong sesuai selera.
  • 5 siung bawang putih dicincang.
  • 5 siung bawang merah atau 1 butir bawang bombay dicincang.
  • 2 ruas jari jahe dicincang.
  • Minyak secukupnya untuk menumis bahan-bahan di atas. Aku memakai minyak zaitun. Silakan pakai minyak apa saja.
  • Setelah harum masukkan ayam. Aduk sampai berubah warna.
  • Masukkan jamur, aduk rata. Lalu masukkan bahan di bawah ini.
  • 2 sendok makan saus tiram.
  • 2 sendok makan minyak wijen.
  • 3 sendok makan kecap manis.
  • Garam sesuai selera.
  • Merica sesuai selera.
  • Cicipi dan tambahkan bahan sesuai selera.
IV, Kaldu nasi tim.
  • 5 siung bawang putih dicincang.
  • 2 ruas jari jahe dicincang.
  • Minyak wijen untuk menumis dua bahan di atas. Karena menurut resepnya ditumis pakai minyak wijen, dan aku terus terang belum punya punya pengalaman mengganti minyak wijen dengan minyak lainnya -siapa tahu mungkin bisa; maka aku patuhi. Memang aromanya terasa beda.
  • Merica sesuai selera.
  • Garam sesuai selera.
  • Daun bawang cincang dimasukkan terakhir.
  • Cicipi dan tambahkan bahan sesuai selera.
Nasi tim siap dimakan.
V. Cara menghidangkan.
  • Ambil nasi. Dicetak bila perlu agar cantik.
  • Ambil ayam secukupnya.
  • Siram dengan kaldu.
  • Hidangkan dengan sambal bila suka. Aku tidak membuat sambal seperti yang ada di resep yang aku contoh. Kami makan pakai saus sambal jadi saja.
  • Tambahkan kecap asin bila suka.
Karena sengaja memakai bawang putih dan jahe yang cukup banyak, sangat dominan sekali rasa keduanya. Kami juga senang memakai merica yang cukup banyak agar rasanya kaya. Buatku yang mengurangi protein hewani, akan lebih enak lagi kalau jamur tersedia. Selamat mencoba. 😊😊